{ B L O G }

Home

Ekspedisi

TIM EKSPEDISI

 

H a l m a h e r a

Kawasan Halmahera di Propinsi Maluku Utara yang terletak diantara pulau Papua dan Sulawesi dengan luas kurang lebih 24.500 km2 yang meliputi pulau utama dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Halmahera berada di kawasan Segitiga Karang (Coral Triangle) yang diketahui sebagai area yang kaya akan berbagai jenis biota bahari.

Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukan indikasi bahwa wilayah antara bagian utara dan selatan Sulawesi hingga ujung barat Papua – termasuk pulau-pulau Raja Ampat dan Halmahera - merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tinggi, terutama untuk karang dan ikan karang.

CERITA LENGKAP - CLICK DISINI

 


Hari 18
TELUK BULI - 30 APRIL 2008 - 00º 47.457’ U 128º 19.279’ T

Sayang, petualangan kami harus berakhir lebih cepat dari yang kami rencanakan. Ada masalah dengan salah satu perijinan kami, yang baru kami ketahui dalam beberapa hari terakhir.

Tentu saja kami kecewa, tetapi menghargai berkah yang kami peroleh. Kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa dalam beberapa minggu terakhir, menyelam di terumbu karang yang paling beragam dan spektakuler di dunia – menjelajahi tempat baru, melihat hal baru, dan menyusun rekomendasi yang dapat membantu pemerintah daerah setempat melaksanakan konservasi agar terumbu-terumbu tersebut terus terjaga.

Salah satu hal yang perlu disoroti adalah tim para ahli yang luar biasa pada perjalanan ini. Peneliti internasional terdiri dari para ahli yang terbaik di dunia. Mereka banyak mengetahui tentang terumbu karang, sangat dermawan dalam hal pengetahuan dan keahlian, dan selalu menyenangkan bekerja dengan mereka. Anggota tim dari Indonesia juga adalah kelompok yang luar biasa, ahli dalam bidang masing-masing dengan pengetahuan dan pengelaman lokal yang berharga.

Satu bagian yang terbaik pada survey ini adalah melihat bagaimana peneliti lokal dan internasional berinteraksi. Beberapa malam terakhir kami duduk dibawah sinar bulan di dek atas berdiskusi tentang terumbu karang – keanekaragamannya, biogeografi, ekologi dan evolusi. Seluruh tim terlibat – hingga berjam-jam. Lyndon dan Emre memimpin diskusi tentang gangguan, fokus pada bintang laut berduri, dan Gerry mendiskusikan biogeografi dan evolusi ikan terumbu karang. Luar biasa melihat tingkat ketertarikan dan diskusi antara kelompok peneliti ini, cara yang tepat untuk mengakhiri survey.

Persahabatan telah terbentuk, baik pribadi maupun profesional, yang akan berlanjut terus. Beberapa peserta dari Indonesia tertarik meneruskan studi mereka di luar negeri, dan peneliti internasional akan membantu mereka dengan memberikan aspirasi mereka. Semua ahli internasional menunggu untuk kembali ke Indonesia, melakukan survey di terumbu yang luar biasa ini dan menghabiskan waktu bersama dengan kolega dari Indonesia di lapangan.

Survey ini merupakan pengalaman yang tak ternilai, salah satu yang tidak akan kami lupakan. Halmahera merupakan tempat yang luar biasa – jantung dari jantung Segitiga Karang.

Ali dan tim survey.


Day 18 April 30th

Teluk Buli (Buli Bay) - Coordinates N 00o 47.457’ E 128 o 19.279’

Unfortunately our excellent adventure has come to an end sooner than we planned. Apparently there is an issue with one of our permits, which only came to light in the last couple of days.

Of course we are disappointed, but are counting our blessings. We have had the most amazing experience over the last couple of weeks, diving on some of the most diverse and spectacular coral reefs in the world – exploring new places, seeing new things, and compiling management recommendations that will help the provincial government implement conservation measures to ensure these reefs continue to prosper into the future.

One of the highlights of the trip has been the extraordinary team of experts on this trip. The international experts are among the best in the world. They are extremely knowledgeable about coral reefs, very generous with their skills and knowledge, and are always a pleasure to work with. The Indonesian team members are also a remarkable group of people, each an expert in their chosen fields with valuable local knowledge and experience.

One of the best parts of this survey has been watching the local and international scientists interact. The last few nights we have sat in the moonlight on the top deck having detailed discussions about coral reefs - their biodiversity, biogeography, ecology and evolution. The whole team was involved – for hours at a time. Lyndon and Emre led a discussion about disturbances, focused on corals and crown of thorns starfish, and Gerry led a discussion about biogeography and evolution of coral reef fishes. It was great watching the level of interest and discussion between the groups of scientists, and an excellent way to end the survey.

Great friendships have been made, both personal and professional, which will continue long after this trip is over. Several of the Indonesian participants are interested in studying overseas, and the international scientists will help them with their aspirations. All of the international experts are looking forward to returning to Indonesia, to survey these extraordinary reefs again and spend more time with their Indonesian colleagues in the field.

The survey has been a remarkable experience, and one we will never forget. Halmahera is an extraordinary place – the heart of the heart of the Coral Triangle.

Ali and the survey team

Hari 17
TELUK BULI - 29 APRIL 2008 -
00º 47.457’ N 128º 19.279’ T

Kami sudah berlayar sejauh 800 km dan sampai di titik pertengahan perjalanan kami. Hitungan spesies meningkat terus. Sampai saat ini kami sudah mencatat 460 spesies karang dan 30 lebih yang masih memerlukan studi lanjutan dan mungkin menambah daftar yang sudah ada. Mungkin juga ada spesies baru diantaranya!. Keragaman lokal juga sangat mengesankan, dengan jumlah spesies karang per lokasi paling tinggi secara global berada disini di Halmahera. Spesies ikan terumbu karang juga terus bertambah pada laju rekor, dengan 975 spesies terekam dari Halmahera sampai sekarang, termasuk spesies dottyback dan spinecheek. Banyak dari hitungan spesies di setiap lokasi mencapai lebih dari 200 spesies, yang sekali lagi termasuk baik sekali dalam skala dunia. 147 spesies krustasea (termasuk 26 spesies udang mantis) dan 42 spesies ekinoderma juga tercatat. Jadi Halmahera sesuai dengan harapan kami sebagai salah satu wilayah yang paling beragam di planet ini

Mengapa Halmahera begitu beragam? Ada beberapa alasan. Pertama-tama, seperti agen real estat selalu mengatakan, lokasi, lokasi, lokasi. Halmahera memiliki keragaman habitat laut dan pesisir yang sangat tinggi dan berada di jantung Segitiga Karang, wilayah dengan keragaman hidupan laut tropis yang tertinggi di dunia. Sekalipun hanya mencakup kurang dari 2% lautan di dunia, Segitiga Karang memiliki proporsi keanekaragaman hayati yang mencengangkan – kurang lebih 30% dari terumbu karang dunia, 76% spesies karang dan hampir 40% spesies ikan karang dunia. Keragaman yang luar biasa tinggi di wilayah ini terjadi karena beberapa hal. Segitiga Karang berada di khatulistiwa dimana Samudra Pasifik dan Hindia bertemu, sehingga hidup spesies-spesies berasal dari kedua samudra ini. Proses geologi termasuk bentang tektonis dan perubahan permukaan air laut berperan penting juga, spesies terumbu karang berevolusi dan bertahan selama muka air laut rendah, sementara terumbu di belahan dunia lain dalam kondisi merana. Apapun alasannya, jelas area yang luas dan beragam habitat dan kondisi lingkungan yang luar biasa berperan dalam memelihara keanekaragaman hayati yang tinggi di Halmahera khususnya dan Segitiga Karang secara Umum

Wilayah dengan keragaman tinggi memiliki banyak spesies aneh dan menarik, dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna. Ini ada beberapa contoh dari Segitiga Karang

Ali dan tim keanekaragaman hayati (Indra, Ucu, Emre, Lyndon, Gerry dan Mark)


Website:
Untuk animasi bentang tektonik di Asia Tenggara, lihat website Dr Robert Hall di http://www.gl.rhul.ac.uk/seasia/welcome.html

Day 17 April 29th

Teluk Buli (Buli Bay) - Coordinates N 00º 47.457’ E 128º 19.279’

We have now sailed 800kms and reached the half way point of our journey. The species count continues to rise. So far we have recorded 460 confirmed coral species and 30 or so that require further study and may add to the list. There may even be some new species in there! Local diversity has also been very impressive throughout, with the highest coral species count per site recorded from any reef location globally occurring right here on this trip in Halmahera. Coral reef fish species are also accumulating at a record pace, with 975 species recorded from Halmahera to date, including new species of dottyback and spinecheek. Many of the species counts for each site are over 200 species, which is again considered excellent on the world scale. 147 species of crustaceans (including 26 species of mantis shrimp) and 42 species of echinoderm have also been recorded. So Halmahera is living up to our expectation as one of the most diverse areas on the planet.

Why is Halmahera so diverse? There are several reasons. Firstly, as the real estate agents like to say, its ‘Location, location, location’. Halmahera has a highly diverse range of coastal and marine habitats and is situated in the heart of the Coral Triangle (CT), which has the highest tropical marine diversity on earth. Despite encompassing less than 2% of the world’s oceans, the CT comprises staggering proportion of the biodiversity - approximately 30% of the world’s coral reefs, 76% of the coral species and almost 40% of the world’s coral reef fish species. The extraordinarily high diversity of this area is due to a number of causes. The Coral Triangle is located equatorially where the Pacific and Indian Oceans meet, and so it comprises species from both oceans. Geological processes including plate tectonics and sea level changes have also played important roles, with coral reef species evolving and persisting during low sea level events, while reefs in many other parts of the world were high and dry. Whatever the reason, it is clear that the large area and extraordinary range of habitats and environmental conditions have played a major role in maintaining the staggering biodiversity of Halmahera in particular and the Coral Triangle more generally.

High diversity areas have lots of weird and wonderful species, in many shapes, sizes and colours. Here are some examples from the Coral Triangle.

Ali and the biodiversity team (Indra, Ucu, Emre, Lyndon, Gerry and Mark)


Website:

For a cool animation of plate tectonics in Southeast Asia, see Dr Robert Hall’s website at http://www.gl.rhul.ac.uk/seasia/welcome.html

Hari 16
TELUK BULI - 28 APRIL 2008 - 00º 47.457’ U 128º 19.279’ T

Menjadi Sebuah Spesies atau Tidak

Salah satu ikan yang paling menarik ditemui pada ekspedisi ini adalah ikan anemon ”odd-ball” yang sangat jarang tetapi sudah terlihat dua kali selama satu minggu belakangan ini ketika kami menyelam di terumbu luar timur laut Halmahera. Ikan ini, ikan anemone ‘bertopi’ putih, memiliki cerita menarik.

Di tahun 1973, Gerry Allen menemukan spesies baru ikan anemon, yang kemudian dia beri nama Amphiprion leucokranos, biasa dikenal dengan ikan anemone topi-putih. Penemuan ini terjadi di Madang, pesisir utara Papua New Guinea

Pola yang sangat aneh muncul, ketika Dr. Allen mempelajari ikan ini pada habitat alaminya selama beberapa dekade selanjutnya. Seperti semua anggota genus Amphiprion, selalu berasosiasi dengan anemon laut, yang memberikan sebuah surga aman diantara tentakel yang menyengat ikan-ikan lainnya. Ikan anemon terlindungi oleh senyawa kimia khusus pada lendir tubuhnya yang menahan reaksi sengatan. Tidak seperti ikan anemon lainnya, topi-putih jarang berasosiasi dengan ikan sejenisnya. Tetapi biasanya berpasangan dengan ikan anemon oranye (Amphiprion sandaracinos) atau ikan anemon bersirip oranye (A. chrysoperus).

Beberapa tahun lalu di Teluk Kimbe, Papua New Guinea, Gerry sangat terkejut ketika dia menemukan sepasang dua spesies lainnya (ikan anemone oranya dan ikan anemone bersirip oranye) menjaga sarang telur-telur. Tiba-tiba menjadi jelas baginya bahwa ikan anemone topi-putih adalah hibrida dari kedua spesies ini.

Aspek yang menarik dari fenomena ini adalah rupanya sejumlah besar hibrida bertahan hidup dan kawin dengan sesamanya, menelurkan anak-anak yang mampu hidup terus. Kondisi ini telah berjalan selama ratusan tahun hingga hibrida tersebut dapat dengan mudah ditemukan di wilayah pertemuan spesies kedua orangtuanya, diantaranya pulau-pulau Solomon, New Guinea, dan bagian dari Indonesia timur. Hibrida topi-putih tidak pernah dilihat di lokasi dimana hanya ada satu orangtuanya yang hidup, seperti sirip-oranye di seluruh Melanesia atau untuk ikan anemone oranye di sebagian besar kepulauan Indo-Malaya

Sekalipun sekarang kita sudah memiliki bukti yang baik bahwa topi-putih adalah jenis hibrida, tetap harus dibuat argumentasi yang kuat bahwa topi-putih adalah spesies yang valid hasil fenomena hibridisasi. Evolusi spesies melalui hibridisasi seperti ini diketahui terjadi juga pada kelompok organisme lainnya, seperti tumbuhan dan terumbu karang. Dr. Allen sedang melakukan studi genetik tentang hal ini dengan tim di Boston University dan Atlanta Aquarium.

Apa yang terjadi di alam berbeda dengan apa yang kita pelajari di sekolah – bahwa spesies berbeda tidak bisa saling kawin dan memproduksi anak-anak yang mampu bereproduksi. Tampaknya tidak sesederhana itu.

Ali & Gerry

Ikan anemon topi-putih dengan ikan anemon sirip-oranye: dua spesies atau satu setengah?
The White-bonnet Anemone Fish with an Orange-finned Anemonefish: two species or one and a half? [Photo by Gerry Allen]

Day 16 April 28th

Teluk Buli (Buli Bay)
Coordinates N 00º 47.457’ E 128º 19.279’

To Be A Species or Not to Be

One of the most interesting fishes encountered so far on our expedition is a rare “odd-ball” anemonefish that has been seen twice over the past week while diving on outer reefs of northeastern Halmahera. This fish, the White-bonnet anemone fish has a very interesting story.

Ikan anemon topi-putih. Apakah ini spesies yang sesungguhnya?

The White-bonnet Anemonefish. Is a true species? [Photo by Gerry Allen]
 

In 1973, Gerry Allen discovered what appeared to be a new species of anemonefish, which he named Amphiprion leucokranos, commonly known as the White-bonnet anemonefish. The original discovery was made at Madang on the northern coast of Papua New Guinea.

A very strange pattern emerged as Dr. Allen studied this fish in its natural habitat over the next few decades. Like all members of genus Amphiprion it is invariably associated with large sea anemones, which offer its fish host a safe haven among its tentacles that sting all other fishes. Anemonefishes are protected by a special chemical compound in its body slime that suppresses the normal stinging reaction. But unlike other anemonefishes, the White-bonnet seldom associates with fish of its own kind. Rather it is usually paired up with either the Orange Anemonefish (Amphiprion sandaracinos) or the Orange-finned Anemonefish (A. chrysoperus).

Gerry got a shock several years ago at Kimbe Bay, Papua New Guinea when he found a pair of the other two species (Orange Anemonefish and Orange-finned Anemonefish) tending a nest of eggs! It suddenly became clear to him that the White-bonnet anemonefish was in fact a hybrid cross of these two species.

The intriguing aspect of this phenomenon is that an apparently large number of the hybrids survive and then mate with each other, producing viable offspring. This state of affairs has apparently persisted over thousands of years to the extent that the hybrid can be predictably found throughout the co-occurring range of the parental species, which includes the Solomon Islands, New Guinea, and parts of eastern Indonesia. Likewise, the hybrid White-bonnet never occurs when only one of the parent species is present as is the case for the Orange-finned throughout Micronesia and Polynesia or for the Orange Anemonefish over much of the Indo-Malayan Archipelago.

Even though we now have good evidence that the White-bonnet is a hybrid a strong argument can be made that it is actually a valid species resulting from the hybridization phenomenon. Similar evolution of species via hybridization is known to occur in other groups of organisms, notably plants and reef corals. Dr Allen is currently conducting genetic studies of this problem with a team from Boston University and the Atlanta Aquarium.

So much for what we learned in school – that different species cannot interbreed and produce viable reproductive offspring. It seems it is not that simple!

Ali & Gerry

Hari 15
TELUK BULI - 27 APRIL 2008 - 00º 47.457’ U 128º 19.279’ T

Mark Erdmann, ahli udang mantis di kelompok kami, menemukan hal yang sangat menggembirakan di belahan timur – utara Halmahera. Dia menemukan satu spesies udang mantis yang masih baru bagi dunia ilmu pengetahuan.

Udang mantis memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Beberapa diantaranya cukup besar (panjang sekitar 35 cm), sementara yang lainnya kecil (kurang lebih 1 cm). Spesies yang baru berukuran kecil (panjang 1 cm), dan mengagumkan Mark bisa menemukannya diantara susunan terumbu karang yang sangat kompleks.

Udang mantis adalah jenis krustasea, seperti kepiting atau udang. Mereka karnivora dan memiliki anggota badan khusus yang digunakan untuk membunuh mangsanya. Beberapa spesies memiliki alat pemukul (penghancur) sementara yang lainnya memiliki cakar. Sekalipun kecil, spesies yang baru adalah seekor penghancur!

Saya bertanya-tanya berapa banyak spesies baru yang akan kami temukan lagi?

Ali

Udang mantis memperlihatkan anggota badan yang digunakan untuk memangsa. Yang ini seekor penyayat! A mantis shrimp showing his raptorial appendages. This one is a slasher!(Foto: Gerry Allen)

Day 15 April 27th

Teluk Buli (Buli Bay)

Coordinates N 00o 47.457’ E 128 o 19.279’

Mark Erdmann, our resident mantis shrimp expert, made an exciting discovery on the northeastern side of Halmahera. He discovered a species of mantis shrimp that is completely new to science.

Mantis shrimps come in many shapes and sizes. Some are quite large (about 35cm long), while others are very small (about 1cm). The new species is tiny (about 1cm long), and its amazing Mark could find it among the startling complexity of a coral reef.

Mantis shrimp are crustaceans, like crabs or shrimps. They are carnivores and have specialized raptorial appendages they use to kill their prey. Some species have clubs (smashers), while others have claws (spearers). Despite its small size, the new species is a smasher!

I wonder how many more new species we will find?

Ali

<--
The new species is tiny (about 1cm long), and its amazing Mark could find it among the startling complexity of a coral reef.

Mark Erdmann menemukan spesies udang mantis baru.

Mark Erdmann discovers a new species of mantis shrimp.
[Photo: Erdi Lazuardi]


Hari 14
TELUK BULI - 26 APRIL 2008 - 0º 50.515 U 128º 26.766’T

Menyelam lagi di Teluk Buli hari ini, dan menemukan terumbu yang tampaknya berhasil menghindar dari outbreak bintang laut berduri. Di tempat yang dangkal banyak ditemukan karang meja yang besar-besar dan tutupan karang yang baik. Karang-karang ini adalah salah satu makanan yang diminati oleh bintang laut, jadi menyenangkan melihatnya tumbuh subur di teluk. Saya dan Andreas Muljadi menemukan koloni Porites rus yang luar biasa, menjulang setinggi 3. Emre Turak dan Lyndon Devantier memperkirakan koloni ini berusia dua ratus tahun.

Joanne Wilson juga membuat penemuan yang menarik. Dia menemukan telur-telur di beberapa karang cabang. Ini sangat menarik karena sangat sedikit kita mengetahui tentang reproduksi karang di Indonesia. Tetaplah bersama kami dalam beberapa hari ke depan sambil Joanna melakukan investigasi lebih lanjut

Ali

Lapisan karang yang tumbuh subur di Teluk Buli
Flourishing plate corals in Buli Bay.
[Photo: Emre Turak]
Day 14 April 26th

Teluk Buli (Buli Bay)

Coordinates N 0o 50.515 E 128 o 26.766’

Went for another dive in Buli Bay today, and found a reef that seems to have escaped the crown-of-thorns starfish outbreak. In the shallows there were many large table corals and good coral cover. These corals are among the preferred food for the starfish, so it was great to see them flourishing in the bay. Andreas Muljadi and I also found a remarkable colony of Porites rus, with 3m high spires. Emre Turak and Lyndon Devantier estimated that this colony is over two hundred years old.

Joanne Wilson also made an interesting discovery. She found eggs in some of the branching corals. This is exciting because very little is know about coral reproduction in Indonesia. Stay tuned for more on this in the next few days as Joanne investigates this further.

Ali

Alison Green dengan karang setinggi 3m.
Alison Green with 3m high coral spires.
[Photo: Andreas Muljadi]
 
 
Hari 13
TELUK BULI - 25 APRIL 2008 - 0º 44.005’U 128º 27.121’T

Seharian menyelam di Buli. Penyelaman pertama di Terumbu Woi (Woi Reef), di tengah-tengah teluk. Ini pertama kalinya kami melihat bukti adanya outbreak bintang laut berduri,yang memakan karang-karang. Spesies ini seringkali ada di terumbu dalam jumlah kecil, tetapi kadang-kadang terjadi peningkatan populasi yang sangat cepat, biasa disebut dengan outbreak, yaitu ketika ribuan bintang laut berduri merusak terumbu karang. Di Woi Reef, kami menemukan kerusakan berat (karang mati tertutup alga) dan banyak bintang laut berduri, yang menyebabkan kerusakan tersebut dan ‘menyapu’ sisa-sisa karang yang tertinggal.

Penyebab outbreak merupakan salah satu isu panas yang banyak diperdebatkan di dunia sains kelautan, terutama apakah mereka terkait dengan dampak dari kegiatan manusai atau tidak. Ketika berkumpul pada masa outbreak, bintang laut berduri dapat memproduksi larva dalam jumlah yang sangat banyak (milyaran) sehingga populasi mereka sangat berfluktuasi. Nutrien tinggi dalam air meningkatkan daya tahan hidup larva bintang laut berduri, pengambilan ikan-ikan pemangsa bintang laut berduri secara berlebih juga mendukung daya tahan hidup mereka – satu bentuk umpan balik positif. Saat ini, banyak peneliti percaya outbreak disebabkan oleh kualitas air yang menurun dan pengambilan ikan berlebih yang berkaitan dengan dampak dari kegiatan manusia.

Ali & Lyndon

Day 13
Teluk Buli (Buli Bay)
25 APRIL 2008 - 0º 44.005’U 128º 27.121’T

Spent the day diving in Buli. The first dive was on Woi Reef, in the middle of the bay. This was the first time we have seen evidence of a serious outbreak of the crown of thorns starfish, which eat corals. This species is often present on reefs in low numbers, but sometimes there is a major rapid increase in the population, termed an “outbreak”, when thousands of starfish severely damage coral reefs. At Woi Reef, we found extensive damage (dead corals covered by algae) and lots of crown of thorns, which had caused the damage and were ‘mopping up’ many of the remaining corals.

The reason for these outbreaks is one of the most hotly debated issues in marine science, particularly whether they are linked to human impacts or not. When aggregated in an outbreak, the starfish can produce huge numbers (billions) of larvae and hence their populations are prone to major fluctuations. Enhanced nutrients in the water contribute to higher survival of starfish larvae, while overfishing of starfish predators can also promote their survival – a form of positive feedback. These days, most scientists believe outbreaks are caused by declining water quality and overfishing linked to human impacts.

Ali & Lyndon

Hari 12
TELUK BULI - 24 APRIL 2008

Hari ini kami berlayar menuju Buli, mengucapkan selamat tinggal pada Rod dan Kent, dan menyambut Joanne dan Sterling sebagai anggota tim. Sekalipun sedih melihat Rod dan Kent pergi, saya sangat menunggu kedatangan Joanne. Seperti biasa, saya selalu menjadi satu-satunya perempuan dalam tim survey. Memang semua pria di tim sangat baik dan saya menyenangi mereka, tetapi akan lebih senang bila ada perempuan lagi di kapal.

Pagi ini kami keluar dari air sambil menunggu kapal terbang datang. Perubahan yang ditunggu istirahat dari menyelam, sekalipun hanya untuk beberapa jam. Sekalipun penyelaman luar biasa, tetapi melelahkan dan baik sekali-kali beristirahat di tengah-tengah survey. Memberi kami kesempatan untuk santai sedikit, dan mengejar pekerjaan rumah kami (memproses data dan spesiment). Baik juga keluar dari air pagi ini untuk memberi kesempatan nitrogen yang terakumulasi akibat menyelam, keluar dari sistem kami karena terlalu banyak nitrogen dapat menyebabkan kejang/kelumpuhan (bends). Tetapi tidak ada istirahat bagi orang-orang hebat, kami semua ingin kembali ke air sore ini.

Beberapa hari terakhir ini sangat menarik. Sambil menyusuri Halmahera kami melihat fauna terumbu karang berubah. Sekarang kami berada di bagian timur pulau, kami melihat banyak spesies-spesies Pasifik. Satu alasan mengapa Halmahera begitu beragam karena di Indonesia lah, Lautan Pasifik dan Hindia bertemu. Jadi, di tempat ini spesies dari kedua lautan tumpah tindih. Berada di sebelah timur Halmahera dengan spesies dari Pasifik – saya merasa akrab seperti dengan kawan lama. Saya meluangkan sebagian besar karir saya bekerja dan menyelam di terumbu Pasifik

Alison

Day 12
Teluk Buli (Buli Bay)

Today we sailed into Buli, said goodbye to Rod and Kent, and welcomed Joanne and Sterling to the survey team. As sad as I was to see Rod and Kent leave, I’ve been looking forward to Joanne coming. As usual, I’ve been the only woman on the survey team. And while the guys are great and I love it, it will be fun to have another woman on board.

We also had a morning out of the water this morning while we waited for the plane to come in. It was a welcome change to have a rest from diving, if only for a couple of hours. While the diving is fantastic, it is tiring and it’s good to have a break in the middle of the survey. It gave us all a change to relax a bit, and catch up on our homework (processing data and specimens). It is also good to have a morning out of the water to allow some of the nitrogen we have accumulated from diving to leave our system, because too much nitrogen can lead to “the bends”. But there is no rest for the wicked, and we are all keen to get back in the water again this afternoon.

The last couple of days have been very interesting. As we make our way around Halmahera the coral reef fauna is changing. Now we are on the eastern side of the island we are seeing more Pacific species. One of the reasons that Halmahera is so diverse is that it is in Indonesia, where the Pacific and Indian Oceans meet. So it is where species from both oceans overlap. Now we are on the east side of Halmahera, we are seeing more of the Pacific species – old friends for me, since I’ve spent most of my career working and diving on Pacific reefs.

Alison

Ikan kupu-kupu (butterfly fish) dengan pola jaring-jaring – kawan lama dari pulau-pulau Pasifik (Foto: Gerry Allen)

The reticulated butterflyfish – an old friend from the Pacific Islands. [Photo: Gerry Allen]

Tim survey Halmahera – bunga mawar diantara duri? (Foto: Erdi Lazuardi)

Halmahera survey team – a rose among thorns? [Photo: Erdi Lazuardi]

Hari 11
1º 31.367' U; 128º 43.548' T

Hari ini banyak waktu melihat komunitas karang di lokasi terlindung yang memiliki cerita sama; distribusi karang berukuran sama yang terpisah-pisah. Ini menunjukan pertumbuhan secara teratur pada waktu yang berbeda pada lokasi yang berbeda.

Tim daratan beruntung melihat pantai peneluran penyu belimbing, jadi beberapa orang dari kami mendarat dan memutuskan berjalan di pantai sepanjang 15 km itu. Ini adalah awal dari suatu petualangan. Kami menemukan jejak peneluran penyu lekang dan bukti lebih lanjut bahwa telur-telurnya telah diambil orang. Kami menyeberang melintasi dua muara, satu diantaranya memiliki arus kencang menuju ke laut dan beberapa buaya ''kali" (berarti buas). Rupanya sang buaya lebih menyukai tempat dengan air yang lebih segar, itu yang kami harapkan, dan menyebrang mendinginkan kami, membersihkan garam dan latihan yang baik karena kami harus mempertahankan tempat berpijak kami dalam arus.

Pengemudi perahu di pantai, tak sabar [membawa kami kembali] mendekat ke pantai dan terperangkap dalam ombak besar yang menyebabkan perahu terbalik dan membuat kami harus berjuang dalam ombak besar dan merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kami berhasil membawa perahu melalui ombak besar dan mengayuh melewatinya bersama dengan anggota kami yang tidak terlalu pandai berenang dan kurang pengalaman. Ketika kami hampir keluar dari zona berbahaya, lumba-lumba kecil muncul ke permukaan dekat bagian depan perahu, lalu menghilang.

Kami akan saling bertukar tempat esok hari. Dengan rasa sedih Kent Carpenter dan saya meninggalkan kapal dan akan digantikan oleh Joanne Wilson dan Sterling Zumbrunn

Rod.

Day 11
1º 31.367' N; 128º 43.548' E

Today was more time over coral communities in a sheltered location that yielded the same story of patchy distribution of corals. These patches have corals that are mostly in the same general size class which indicates pulses of recruitment at different times.

The land team got wind of an apparent major leatherback nesting beach, so a few of us landed and decided walk the 15 km beach. I, as a person passionate about sea turtles, and providing some training on nesting beach assessments, happily joined them. That was the beginning of quite an adventure. We did find the tracks of nesting olive Ridleys turtles and further evidence that their eggs were collected by people. We waded across two estuaries, one that had a strong current flowing out to sea and crocodiles. Evidently the crocs preferred the fresher water areas, which we were rather banking on, and the crossing just cooled us, washed off the salt and gave us a good workout maintaining our footing in the current.

Our boatman offshore, anxious to [pick us up] ventures in close to shore, got caught in an unfortunate huge wave that tipped the boat over. This left us fighting to right it in the surf and then contemplate our next move. With the help of some great swimmers from the nearby tiny village, we managed to swim the boat out through the surf and paddle it beyond the surf along with those of our number less aquatic by nature and experience. Just as we cleared the danger zone, a single small dolphin surfaced close in front of the boat and then was gone.

We have a changeover tomorrow. With great sadness Kent Carpenter and I leave the boats and will be replaced by Joanne Wilson and Sterling Zumbrunn.

Rod

Hari 10
0º 52.816' U; 127º 41.730' T

Kami menjelajah lingkungan terumbu karang di pedalaman Teluk Kau. Kondisi yang terlindungi memungkinkan pertumbuhan karang batu besar berpola seperti susunan batu bata berjajar horisontal dan tinggi membuat pemandangan bawah laut yang surreal seperti dalam film Lord of the Rings . Nelayan yang menggunakan potas beroperasi disini, meninggalkan jejak bidang putih pada karang staghorn di sekitar lubang yang digali untuk mengambil ikan yang sudah pingsan.

Karang terdistribusi secara tidak merata dalam bidang-bidang yang didominasi oleh berbagai spesies, kadang-kadang pada bidang yang cukup besar, dan mereka tampaknya berumur sama bila dilihat dari kesamaan ukurannya. Hal ini memberikan kesan bahwa ada pertumbuhan yang baik pada waktu yang berbeda untuk spesies yang berbeda.

Nurhalis Wahidin (Uda) dan Erdi Lazuardi, yang mengukur penutupan bentik secara konsisten pada kedalaman 12 dan 4 m, menyimpulkan rata-rata 50% tutupan karang keras di Pulau Sidanga, tanjung bagian utara dari pulau-pulau Loloda Selatan, pulau Tagalaya dan Takau, tetapi mencapai 75% pada lokasi terbaik. Rata-rata tutupan secara keseluruhan pada kedua kedalaman ini sekitar 31% dan lebih tinggi pada kedalaman lebih dangkal. Puing-puing karang mendominasi beberapa lokasi disebabkan oleh pemboman. Beberapa lokasi memiliki pertumbuhan yang baik seperti diperlihatkan oleh banyak koloni-koloni kecil karang keras.

Day 10
0º 52.816' N; 127º 41.730' E

We covered reef coral environments deep in Kau Bay. The sheltered conditions enabled growth of boulder corals topped by castellations and spires creating a surreal seascape fitting of the Lord of the Rings. The cyanide fishers are at work here, leaving their telltale white patches in the stagshorn coral surrounding a hole dug in to remove the stunned fish.

The corals are unevenly distributed in patches dominated by different species sometimes over large areas and of apparently the same age judging by the evenness of their size. This would suggest pulses of good recruitment and growth at different times for the different species.

Nurhalis Wahidin (Uda) and Erdi Lazuardi, who are measuring benthic cover consistently at 12m and 4m depths, an average of 50% hard coral cover was found at Sidanga Is., Northern Cape of Loloda Selatan Is., Tagalaya Is., and Takau Is., but reaches over 75% at the best location. The overall average at these two depths is only about 31 % and is higher at the shallower depth. Coral rubble dominates at several sites caused by blast fishing. Some sites had good recruitment as shown by many small hard coral colonies.

Rod

Hari 9
1º 44.366' U; 128º 4.10' T

Besar hati rasanya menemukan koloni karang yang tumbuh dengan subur dan utuh menutupi 70 hingga 90% terumbu. Kedua lokasi yang terbuka dan terlindungi yang kami kunjungi hari ini memiliki taman karang yang indah tetapi berbeda. Lokasi yang terbuka memiliki koloni yang lebih kuat dengan bentuk dan ukuran beragam, dengan karang meja hampir mencapai lebar 3 m. Karang di habitat yang terlindungi seperti berasal dari dunia lain – koloni besar dan rapuh dari karang bercabang-cabang setipis pensil dan karang meja yang besar. Semua ini mengindikasikan sedikitnya gangguan di lokasi-lokasi ini dan daya tahan alamiah dari komunitas karang disini.

Tetapi, terlihat dengan jelas pernah ada kematian karang yang meluas sekitar lebih dari 10 tahun lalu, bukti-bukti terlihat di beberapa tempat – tumpukan karang bercabang yang sudah lama mati atau sisa-sisa karang meja besar yang perlahan-lahan ditumbuhi oleh karang-karang baru. Dimana kondisi memungkinkan pertumbuhan karang secara baik, karang-karang mati dengan cepat ditumbuhi karang baru. Kami mencoba menentukan penyebabnya, tetapi kemungkinan besar karena pemutihan karang yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 1998 atau karena gangguan bintang laut berduri. Dengan berlalunya waktu, mengindentifikasi akibat dari kematian secara pasti menjadi lebih sulit.

Jumlah hitungan spesies terus bertambah, sekarang disertai dengan spesies yang sangat jarang atau spesies yang hanya hidup di lingkungan tertentu saja.

Malam ini kami membuang sauh di teluk yang ’ramai’ dengan ikan teri. Mereka terlihat seperti percikan perak di sekitar kami ketika tersorot sinar lampu. Tidak aneh kami melihat paus Brydes ketika kami masuk menuju teluk.

Mungkin banyak cerita lagi nanti....

Day 9
1deg 44.366mins N; 128 deg 4.10mins E

It is hugely encouraging to find such vigorously growing, intact coral colonies covering 70->90% of the reef. Both the exposed and sheltered sites we visited today had beautiful but different coral gardens. The exposed site had more robust colonies of varying shapes and sizes, with some table corals reaching nearly 3m across. The corals in the sheltered habitat were other worldly – large fragile colonies of pencil thin branching corals and huge tables. All of this indicates little disturbance to these sites and the enduring nature of the coral communities here.

However, there clearly was a major and widespread coral mortality 10 or more years ago and many areas show the evidence – banks of old dead branching corals or the remains of large tables that are slowly being settled by new recruits. Where conditions favor vigorous coral growth, the long dead corals or almost completely overgrown. We will focus on trying to determine the cause if at all possible, but it is likely either bleaching linked to the worldwide 1998 bleaching or a major crown-of-thorns starfish infestation. With each year that passes, identifying the cause of mortality with any confidence is compromised.

The species continue to grow, supplemented now by the rarer species or those specialized to live in particular environments.

We are anchored this evening in the rich waters of a bay that is alive with anchovies. They are like silver spray in our lights around us. Its little wonder we saw a Brydes whale on our way into the bay

More later perhaps….

Rod

Hari 8 - Morotai Timur
2º 11.554’ U; 128º 57.366’ T
 

Hari ini penuh dengan maslahat. Catatan yang baik, penyelaman yang bagus, kebajikan di pantai, dan kegembiraan. ‘Yahoo’ adalah kata pertama yang keluar dari Andreas Muljadi ketika ia muncul di permukaan air sore ini. Dia bersama tim ikan mencatat 30 bumphead parrotfishes (ikan kaka tua) yang besar-besar, kelompok Napoleon wrasse, dan kelompok kecil kerapu karang diantara hiu-hiu, barakuda, dan ikan-ikan besar lainnya. Andreas bertahun-tahun melakukan pemantauan lokasi pemijahan (SPAG) dan menganggap lokasi penyelaman sore ini sebagai lokasi SPAG. Jika kumpulan ikan-ikan itu sudah berada disana selama karang raksasa yang menjulang di atas kami, maka bisa jadi ikan-ikan itu telah menggunakan lokasi ini sebagai tempat pemijahan selama lebih dari 1.000 tahun.

Spesies Pasifik terlihat pada penghitungan ikan hari ini. Spesies karang secara umum memiliki distribusi geografis yang luas sehingga kecil kemungkinan adanya pengaruh Pasifik. Indra Bayu Vimono telah meningkatkan hitungan echinoderma diatas 30 spesies, feather star belum dimasukan kedalam hitung ini, krustasea sudah mencapai lebih dari 130 spesies dan beberapa belum diidentifikasi.

Berita besar, kami menemukan dua jenis ikan dottyback baru dan satu spesies lagi yang diduga baru, masih diamati dengan cermat.

Penyu lekang betina yang masih hidup ditemukan di satu desa, hari ini. Anggota tim mengumpulkan uang untuk membeli dan melepaskannya sehingga bisa bersarang di hari lain. Tim daratan, Imran Taeran, Anwar Ibrahim dan Erick Zulhikman menemukan bahwa sistem tradisional sasi masih hidup dan berjalan di desa ini. Menghukum anggota masyarakat yang melanggar aturan tradisional yang mengelola perikanan garfish.

Rod snorkeling dengan 8 ekor spinner dolphins (lumba-lumba) agak jauh dari terumbu karang pada kedalaman 120 feet (+ 40 m). Dia tidak tahu mana yang lebih menyenangkan, berenang dengan lumba-lumba atau berada di air yang demikian jernih sehingga dapat melihat dasar laut lebih dari 100 feet (+ 33m)

Rod.

Day 8 - East Morotai
2º 11.554’ N; 128º 57.366’ E

Today was very rewarding all around. Good records, good diving, a good deed ashore, and good fun. “Yahoo” was the first word from Andreas Muljadi as he broke the surface this afternoon. He and the fish group recorded a school of 30 large bumphead parrotfishes, a group of Napoleon wrasse, and a small aggregation of coral trout, among sharks, barracuda, and other great fishes. Andreas has years of experience monitoring fish spawning aggregations and considers our afternoon site one. If the aggregation has been there as long as the huge coral head that towers above it, fishes would have been using this site to spawn for more than 1,000 years.

Pacific species showed up today in the fish counts. Coral species generally have a wider geographic distribution and so there are no likely Pacific influences. Indra Bayu Vimono has raised the echinoderms over the 30 species mark, with all the feather stars still to be added, and crustaceans are up at over 130 species, with a number still to be identified.

The big news is that we have two new dottyback fish species, and another suspected new species still under close scrutiny.

A live female olive Ridley turtle was found in a village today. The guys had a whip around and raised the money needed to buy and free it to nest another day. The land team, Imran Taeran, Anwar Ibrahim, and Erick Zulhikman found the traditional sasi system alive and well in this village. Woe betide any community members that infringe the traditional regulations governing the garfish fishery.

Rod snorkelled with a group of 8 spinner dolphins off the reef in 120 feet of water. He doesn’t know which is more exciting, swimming with dolphins or being in water so clear that the bottom is quite clear over 100 feet down.

Rod.

Bluetangs muda atau palette surgeonfish, atau lebih dikenal sebagai Dory dalam filem “Finding Nemo” (Foto: Gerry Allen)
Young bluetangs or palette surgeonfish, or Dory in “Finding Nemo” photo by Gerry Allen.

 

Spesies baru dottyback dengan taring yang mengesankan (Foto: Gerry Allen)

A new species of dottyback baring some impressive fangs. photo by Gerry Allen

Asril Djunaidi melepas penyu sisik (Foto: Erick Zulhikman)

Asril Djunaidi releasing a hawksbill turtle. photo Erick Zulhikman


Hari 6 - Pulau Rau
2der 17.224men U; 128der 9.723men T

Setiap orang harus mengisi kembali rasa optimismenya terhadap kelangsungan hidup terumbu karang dengan mengunjungi lokasi yang kami lihat pagi ini. Mulai dari pinggir pantai disamping kampung di Pulau Rau hingga puncak terumbu, lereng karang dangkal dan bagian atasnya, mendukung taman karang berwarna-warni. Tak ada satupun karang yang patah dan komunitas terumbu memancarkan ketahanannya. Di jaman sekarang dengan ekspoitasi berat dan dampak perubahan iklim, pemandangan seperti ini menjadi semakin sulit dicari dan memberi inspirasi. Arus sedang diantara dua pulau dan sepanjang terumbu memberi pengaruh membersihkan, membilas dengan air bersih dan menyapu semua endapan lumpur dan kotoran lainnya yang dapat mencekik karang. Lokasi ini berdaya tahan tinggi dan berpotensi untuk menjadi area konservasi. Secara umum, dari hitungan ikan, lokasi ini sedang-sedang saja, tetapi memiliki beberapa spesies yang tidak biasa dan lokasi dengan hitungan tertinggi bagi Kent Carpenter pada kedalaman penelitiannya. Lokasi ini luar biasa bagi karang. Emre Turak menghitung 222 spesies karang di air dangkal, yang terbaik bagi peneliti karang Indo-Pasifik ini, dan mungkin ada tambahan 50 lagi jika spesies air dalam dimasukan ke dalam hitungan.

Berita baik tentang penyu hari ini. Asril Djunaidi mendarat di pantai penyu dan menemukan jejak tukik yang berhasil menuju pantai dan laut. Penduduk kampung menyebutkan bahwa penyu belimbing bersarang disini.

Tim sosial ekonomi dipimpin Imran Taeran mendapatkan informasi yang menarik, termasuk penggunaan penyu. Belum terlihat adanya praktek pengelolaan tradisonal disini, tetapi tim sampai di desa ketika sedang berlangsung pertemuan untuk menghidupkan kembali adat, atau sistem pengelolaan tradisional. Spesies krustasea juga menggunung. Ucu Yanuarbi sudah mencatat 42 spesies sampai saat ini dan banyak kepiting kelomang (hermit crab) yang masih harus diidentifikasi. Mark Erdmann menambah 34 spesies udang mantis, termasuk 3 rekor baru bagi daerah ini sehingga terdapat 76 krustasea yang sudah diidentifikasi, diluar kelomang.

Rod

Day 6 - Rau Island
2der 17.224men U; 128der 9.723men T

Everyone needs to recharge their optimism for the survival of coral reefs by visiting a site like the one we did this morning. Extending out from the shore beside a village on Rau Island out to the reef crest, the shallows and upper reef slope supported a vibrant, colorful coral garden. Not a coral was broken and the reef community radiated with resilience. In this day and age of heavy exploitation and climate change impacts, such a sight is increasingly uncommon and truly inspiring. A moderate current washes between two islands and along the reef, flushing it with clear water and sweeping away all silt and other rubbish that might choke the corals. The site is truly resilient and has great potential for inclusion in a conservation area. The site was moderately rich for fishes overall, but yielded some unusual species and the highest site count for Kent Carpenter in his focal depths. It was exceptional for corals. Emre Turak scored 222 shallow water coral species, a personal best for this seasoned surveyor of Indo-Pacific reefs, and likely another 50 more when the deeper water species are included.

Good news on the turtle front today. Asril Djunaidi landed on a turtle beach and found the tracks of hatchlings that made it successfully down the beach and into the sea. Villagers say leatherback turtles nest here.

The village team led by Imran Taeran has also turned up interesting information, including use of turtles. There have yet to find any traditional management in practice, but arrived in a village during a meeting to revive the adat, or traditional management system.

The crustacean species are mounting too. Ucu Yanuarbi has recorded 42 species so far with many hermit crabs still to be indentified. Mark Erdmann has added 34 species of mantis shrimp, including three new records for this area for a total of 76 identified crustaceans, excluding the many hermit crabs.

Rod

Selintas taman karang di dekat Pulau Rau (foto: Emre Turak)

A glimpse into the coral gardens off Rau Island (picture: Emre Turak)

Hari 5 - Pulau pulau Loloda Utara
2der 15.505men U; 127der 46.102men T (Pulau Doi)

Kami menjelajah pulau pulau Loloda Utara hari ini, yang lingkungannya sangat berbeda, membuat hitungan spesies terus bertambah, baik untuk karang maupun ikan. Air di satu lokasi sangat jernih dan banyak kelompok-kelompok ikan termasuk ikan pelagik tuna gigi anjing (dogtooth tuna) yang sangat besar – Alison Green dan Andreas Muljadi masih terus membicarakannya. Andreas menyebut kawanan napoleon wrasse dan kumpulan kakap sebagai temuan yang berarti dalam dua hari terakhir. Bumphead parrotfish (ikan kaka tua) dan kerapu karang yang besar-besar membuat senang tim ikan. Kami juga menjumpai habitat terlindung dimana hidup lingkaran karang seperti daun yang sangat khas dan sebidang besar karang bercabang-cabang. Karang sudah sangat rusak disini, tetapi bagian-bagian yang masih utuh dan cantik menyenangkan kami. ”Luar-biasa” adalah observasi singkat Emre Turak. Emre dan Lyndon DeVantier menghitung 200 lebih spesies karang di setiap lokasi, lebih dari tempat manapun yang pernah disurvey oleh kedua ahli karang dunia ini. Terlihat dengan jelas adanya aliran bibit karang baru menuju bidang yang rusak, menggetarkan hati dan membuat penulis blog ini, pencatat ketahanan karang, sibuk. Ini menunjukan indikator yang kuat atas kemampuan terumbu karang untuk pulih jika diberi kesempatan.

Gerry Allen yang meneliti keragaman ikan, mencatat lebih dari 200 spesies setiap harinya dan sekarang hampir mendekati 600 setelah hanya 4 hari – belum pernah dia alami dalam pengalaman selama hidupnya.

Rod

Day 5 - N. Loloda Islands
2deg 15.505mins N; 127deg 46.102mins E (Doi Island)

We covered the N Loloda Islands today, finding very different environments which kept our species counts climbing for both corals and fishes. One site had absolutely transparent water and schools of fishes, including some large pelagic fishes of which an enormous dogtooth tuna still has Alison Green and Andreas Muljadi talking. Andreas recalls a school of Napoleon wrasse and aggregations of snappers as two significant findings over the last few days. Large bumphead parrotfish and coral trout pleased the fish team. We also covered more sheltered habitat that showed typical whorls of leafy corals and large patches of branching forms too. The corals were extensively damaged, but the beautiful intact patches we pleasing to see, “mind-blowing” was Emre Turak’s simple observation. He and Lyndon DeVantier are getting 200+ coral species at each site, which is more than anywhere else these world experts have surveyed. There was absolutely runaway recruitment of new corals onto the damaged patches, which thrilled and kept busy, yours truly, the reef resilience recorder. This is a strong indicator of the ability of the reef to bounce back if allowed to do so.

Gerry Allen covering fish diversity is recording over 200 spp daily and now has nearly 600 after only 4 days – this is unprecedented in his lifelong experience.

Rod

Karang meja sepanjang tepi terumbu karang memudahkan Gerry Allen mendapatkan contoh ikan

Table corals long the reef edge provide Gerry Allen with good sampling for fishes

Hari 4 - Pulau pulau Loloda Selatan
1derajat 42.607men U; 127derajat 32.780men T

Pagi yang luar biasa – kami turun menuju surga karang, taman penuh warna, karang keras yang sehat hampir menyelimuti beting batuan. Keanekaragaman tinggi, pertumbuhan juga tinggi, bervariasi dan tetap bila melihat dari rentang ukuran koloni, dan karang-karang memiliki warna yang baik serta tidak ada tanda-tanda tekanan dari predator ataupun penyakit. Sekitar 250 spesies karang tercatat di lokasi ini, hampir sama dengan jumlah karang di seluruh lokasi hingga saat ini. Kami melihat koloni karang tua yang sangat mengesankan termasuk satu raksasa Pavona clavus yang setidaknya berusia 1.000 tahun (lebar 16-17 m), Methuselah* kami. Hitungan ikan juga terbaik di lokasi ini. Mungkin salah satu alasan mengapa karang sangat baik disini karena kurangnya ikan ikan yang dapat dimakan atau kerusakan karang karena pengambilan ikan. Ikan-ikan karang kecil terwakili dengan baik dan beragam.

Melintas dibawah air terjun yang jatuh ke laut dengan kapal menandai waktu istirahat kami yang kekanak-kanakan tetapi cara yang praktis untuk membersihkan garam dan mendinginkan tubuh.

Perkiraan kasar jumlah spesies adalah 500 untuk ikan dan 400 untuk karang. Jumlah ini sangat luar biasa mengingat kami baru 3 hari melakukan pencatatan. Tim ekspedisi bekerja keras untuk terus mengikuti rekor baru pada setiap lokasi; dan sangat bergairah menemukan rekor baru untuk wilayah ini dan memperluas rentang pengetahuan dari beberapa spesies.

*Methuselah ayah Nabi Nuh, dianggap orang tertua, dalam bahasa menjadi istilah bagi mahluk yang berumur panjang (penterjemah)

Rod,

Day 4 - Loloda Selatan Islands
1deg 42.607mins N; 127deg 32.780mins E

What a morning – we dropped into coral heaven, a veritable garden of colorful, healthy hard corals almost completely blanketing the rocky shelf. Diversity was high, recruitment was high, varied and regular judging by the range in colony sizes, and the corals had good color and negligible signs of stress from predators or disease. The coral recorders estimate 250 coral species from the site, about equivalent to the sum of all sites so far. There were some impressive old coral colonies including one giant Pavona clavus that was at least 1,000 years old (16-17m across), our Methuselah. This site also yielded the best fish count so far. Perhaps one reason the corals are doing so well here is the noticeable lack of food fishes or fishery damage over the corals. Smaller coral fishes are well represented and varied.

A drive in the boat under a waterfall cascading into the sea made for a welcome respite of silliness as well providing a practical way to wash of the salt and cool ourselves down.

Ballpark estimates of species are 500 for fishes and 400 for corals. This is remarkable after only 3 days of recording. The scientists are working hard to keep up with the high yield of new records at every site; and are excited to find new records for the area and extend the known ranges of several species.

Rod,
Pic 1: Tim peneliti bentik bekerja keras mencatat tutupan dari karang yang tinggi tutupannya (foto: Rod Salm)

pic1: the benthic cover team hard at work recording the cover on this high cover reef (photo Rod Salm)

Pic 2: Karang berwarna-warni dan sehat menyelimuti dasar laut yang berbatu dekat pulau Loloda Selatan (foto: Rod Salm)

pic2: healthy, colorful corals blanket the rocky seabed near the Loloda Selatan Islands (Photo: Rod Salm)

Hari 3 - Penyelaman yang Luar Biasa!
1derajat 40.499menit U; 127derajat 21.720menit T

Penyelaman yang luar biasa hari ini – hangat, air jernih dan jumlah spesies ikan dan karang terus meningkat padahal ini baru penyelaman hari ke 2. Ini mengindikasikan hasil akhir yang luar biasa

Hal terpenting hari ini adalah dua koloni karang yang sangat besar, Porites dan Gardinoseris, yang mencapai lebar 4 m dan lebih dari 8m, diperkirakan berusia 400 dan 1.600 tahun. Temuan ini merupakan indikator kondisi yang baik bagi pertahanan karang jangka panjang di wilayah ini. Berbagai macam karang-karang muda mulai tumbuh di tempat-tempat yang rusak, menunjukan potensi pemulihan komunitas karang yang sangat baik.

Ada kabar lagi tentang penyu lekang yang bertelur di sekitar tempat ini dan kami melihat penyu sisik ketika menyelam. Hasil pengamatan ikan juga baik, ikan-ikan besar datang meneliti para penyelam, kasus dimana siapa meneliti siapa

Rod.

Day 3 - Great Dives !
1deg 40.499mins N; 127deg 21.720mins E

Great dives today - warm, clear waters and fish and coral species numbers are soaring upward and we are only on day 2 of diving. This portends a great total yield.

One of today's highlights was huge colonies of two corals, Porites and Gardinoseris, that reached 4m and 8+m across respectively, suggesting an age of about 400 years for the former and 1,600 years old for the latter. These are good indicators of conditions favoring long-term persistence of the corals here. There were many young corals of different kinds recruiting into the damaged areas which points to the strong recovery potential of the reef communities.

More news of olive Ridley's turtles nesting in the vicinity and we saw hawksbill turtles while diving. Fish yields were good too, with large individuals coming in to scrutinize the divers - a case of who's watching whom.

Rod

Hari 2 - Hari yang Sibuk
1 derajat 2.747menit U; 127derajat26.601menit Timur

Kami tersembunyi di tempat yang terlindung di Tanjung Bobo, bahagia bisa beristirahat dari gulungan ombak, dan kegiatan pun dimulai. Tim sosio-ekonomi menuju dua desa terdekat yang membuat mereka sibuk seharian. Tim monitoring mulai menghitung tutupan bentik dan ikan, indikator ketahanan. Tim keanekaragaman hayati langsung menyelam menghitung spesies ikan dan karang dan mencatat ketahanan karang. Tingkat energi sangat tinggi dan banyak diantara kami yang berada di bawah laut antara 4-5 jam

Sungguh sangat tepat kami disambut oleh kumpulan cabang-cabang karang staghorn yang elegan, Acropora halmaherae, karang yang pertama kali ditemukan dan dideskripsikan di Halmahera. Pertama kalinya bagi saya, penulis blog, melihat spesies ini dan setidaknya membuat satu orang di dalam kelompok ini sangat bahagia. Kami mendapat informasi bahwa sekarang adalah musim peneluran penyu lekang (olive ridley) dan satu diantaranya datang ke pantai dua malam lalu. Tiga penyu terlihat di bawah laut, dan sekarang para penyelam telah diberi pengarahan bagaimana mengindentifikasi penyu, dan dianjurkan untuk melaporkannya.

Sesuatu telah mempengaruhi terumbu karang sekitar 10 tahun lalu. Mungkin akibat pemutihan yang terjadi diseluruh dunia pada tahun 1998 atau karena outbreak bintang laut berduri, predator karang yang rakus. Tetapi, setiap dampak memiliki timbal balik, onggokan puing-puing itu menjadi rumah bagi nudibranch (siput tak bercangkang dengan insang terbuka) yang berwarna-warni indah. Mahluk cantik ini, disebut siput laut oleh mereka yang tidak tahu, mendapatkan makanan dan rumah di karang mati yang mulai tumbuh kembali.

Catatan keanekaragaman karang dan ikan sudah mulai dibuat dan kami sudah mencatat di sekitar 200an mencakup ikan dan karang.

Rod

Day 2 - Shakedown day
1degree2.747mins N; 127deg26.601mins E

We tucked in under the lee of Tanjung Bobo, happy for the respite from rolling in the swells, and the MEA started in earnest. The socioeconomic/resource use team headed off to two villages that occupied them for the day. The monitoring team set off to do their counts of benthic cover and fish indicators of resilience. The biodiversity team dived straight into counts of fish and coral species and recording reef resilience. Energy levels were high and most managed 4-5 hours underwater.

It is fitting that we greeted by thickets of the fine-branching and most elegant stagshorn coral, Acropora halmaherae, first found and described here in Halmahera. It was a first for your diligent blogger and consequently left at least one person very happy. We have learned that this is the nesting season for the olive Ridley turtle and that one came ashore two nights ago. Three turtles were seen underwater and divers now have been briefed on turtle identification and encourage to report the species seen.

Something has impacted the reefs here about 10 years ago. It could have been linked to the 1998 worldwide bleaching event or an outbreak of the crown-of-thorns starfish, a voracious coral predator. However, every impact has a trade-off and the rubble banks are home to numbers of exquisitely colored nudibranchs (shell-less snails with exposed gills). These beautiful creatures, called sea slugs by the irreverent, find good food and shelter on these recovering areas of dead coral.

The coral and fish diversity lists are started and we already into the low 200s.for both fishes and corals.

Rod

Acropora halmaherae oleh Emre Turak, karang staghorn dari Halmehara banyak terlihat pada penyelaman pertama kami muncul bagaikan burung phoenix dari padang rumput laut yang menutupi onggokan karang.

Photo by Emre Turak of Acropora halmaherae, the Halmahera stagshorn coral common at our first dive site rising a phoenix from a field of seaweed covered coral rubble..

Hari I

Fajar menyingsing, cuaca cerah, biru, angin sepoi-sepoi menyejukan menyambut pagi di khatulistiwa. Kami semua cukup beristirahat dan ingin segera memasukan barang-barang kami dan mulai berlayar. Pada 10.00 kami menuju ke Selat Lembeh, laut yang lincah, dan perjalanan sehari semalam melintasi lautan menuju Halmahera. Siang hari kami gunakan untuk mempersiapkan peralatan, lembar data, mendiskusikan dan memperbaiki metoda assessment yang akan digunakan, menentukan kawan penyelaman, dan berbagai kegiatan pengaturan yang penting dan diperlukan untuk mempersiapkan hari pertama kerja di lapangan, serta menikmati makanan lezat yang dihidangkan di kapal. Semua memusatkan perhatian pada kunci pas, obeng, dan o-ring, memastikan semua peralatan bawah laut terlindungi dari air, sambil beristirahat dan menghilangkan kelesuan akibat jetlag. Tentu saja selalu ada waktu untuk musik dan nyanyian oleh anggota tim Indonesia dan beberapa orang awak kapal. Kami sudah siap dan gembira untuk memulai. Kami berharap tiba di Tanjung Bobo jam 07.00 and melakukan penyelaman kami pada 08.30

DAY 1
The day dawned clear, blue and blissfully cooled by a breeze so welcome on equatorial mornings. We all rose rested and eager to load up and ship out. By 1000 we were headed out into the Lembeh Strait, a lively sea, and the long day and night passage across to Halmahera. The day was put to good work preparing gear, data sheets, discussing and fine-tuning assessment methods, pairings of divers, all those essential organizational activities needed to prep for the first day's intensive field work, and appreciation of the excellent food aboard. Focus on spanners, screwdrivers, O-rings and waterproofing of valuable underwater equipment was a priority for most, along with resting up and shaking off the lethargy of jetlag. There was ample time too for music and singing by our Indonesian members and some of the crew. We are ready and raring to go. We expect landfall off Tanjung Bobo by 0700 and to submerge on our first dive by 08.30.
- Rod-

{ T E R K I N I }

Kata mereka tentang Ekspedisi Ini: ...

Rod Salm
Erdi lazuardi
Nurhalis Wahidin (UDA)
Indra Bayu Vimono

Ucu Yanu Arbi
Andreas Muljadi


Berita Hari Ini

 

 
Copyright ©2008 Conservation International Indonesia. All rights reserved.