{
B L O G }
 |
| Home
Ekspedisi
TIM
EKSPEDISI |
H
a l m a h e r a
 |
| Kawasan
Halmahera di Propinsi Maluku Utara yang terletak diantara
pulau Papua dan Sulawesi dengan luas kurang lebih 24.500
km2 yang meliputi pulau utama dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Halmahera berada di kawasan Segitiga Karang (Coral Triangle)
yang diketahui sebagai area yang kaya akan berbagai jenis
biota bahari.
Berbagai penelitian yang
telah dilakukan menunjukan indikasi bahwa wilayah antara
bagian utara dan selatan Sulawesi hingga ujung barat Papua
– termasuk pulau-pulau Raja Ampat dan Halmahera
- merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati laut
tinggi, terutama untuk karang dan ikan karang.
CERITA
LENGKAP - CLICK DISINI
|
 |
|
|
| Hari
18
TELUK
BULI - 30 APRIL 2008 - 00º
47.457’ U 128º 19.279’
T
 |
| Sayang,
petualangan kami harus berakhir lebih cepat dari yang
kami rencanakan. Ada masalah dengan salah satu perijinan
kami, yang baru kami ketahui dalam beberapa hari terakhir.
Tentu saja kami
kecewa, tetapi menghargai berkah yang kami peroleh.
Kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa dalam
beberapa minggu terakhir, menyelam di terumbu karang
yang paling beragam dan spektakuler di dunia –
menjelajahi tempat baru, melihat hal baru, dan menyusun
rekomendasi yang dapat membantu pemerintah daerah
setempat melaksanakan konservasi agar terumbu-terumbu
tersebut terus terjaga.
Salah satu hal
yang perlu disoroti adalah tim para ahli yang luar
biasa pada perjalanan ini. Peneliti internasional
terdiri dari para ahli yang terbaik di dunia. Mereka
banyak mengetahui tentang terumbu karang, sangat
dermawan dalam hal pengetahuan dan keahlian, dan
selalu menyenangkan bekerja dengan mereka. Anggota
tim dari Indonesia juga adalah kelompok yang luar
biasa, ahli dalam bidang masing-masing dengan pengetahuan
dan pengelaman lokal yang berharga.
Satu bagian
yang terbaik pada survey ini adalah melihat bagaimana
peneliti lokal dan internasional berinteraksi. Beberapa
malam terakhir kami duduk dibawah sinar bulan di
dek atas berdiskusi tentang terumbu karang –
keanekaragamannya, biogeografi, ekologi dan evolusi.
Seluruh tim terlibat – hingga berjam-jam.
Lyndon dan Emre memimpin diskusi tentang gangguan,
fokus pada bintang laut berduri, dan Gerry mendiskusikan
biogeografi dan evolusi ikan terumbu karang. Luar
biasa melihat tingkat ketertarikan dan diskusi antara
kelompok peneliti ini, cara yang tepat untuk mengakhiri
survey.
Persahabatan
telah terbentuk, baik pribadi maupun profesional,
yang akan berlanjut terus. Beberapa peserta dari
Indonesia tertarik meneruskan studi mereka di luar
negeri, dan peneliti internasional akan membantu
mereka dengan memberikan aspirasi mereka. Semua
ahli internasional menunggu untuk kembali ke Indonesia,
melakukan survey di terumbu yang luar biasa ini
dan menghabiskan waktu bersama dengan kolega dari
Indonesia di lapangan.
Survey ini merupakan
pengalaman yang tak ternilai, salah satu yang tidak
akan kami lupakan. Halmahera merupakan tempat yang
luar biasa – jantung dari jantung Segitiga
Karang.
Ali dan tim
survey.
|
.jpg)
|
| Day
18 April 30th
Teluk
Buli (Buli Bay) - Coordinates N 00o 47.457’
E 128 o 19.279’
Unfortunately
our excellent adventure has come to an end sooner
than we planned. Apparently there is an issue with
one of our permits, which only came to light in
the last couple of days.
Of
course we are disappointed, but are counting our
blessings. We have had the most amazing experience
over the last couple of weeks, diving on some of
the most diverse and spectacular coral reefs in
the world – exploring new places, seeing new
things, and compiling management recommendations
that will help the provincial government implement
conservation measures to ensure these reefs continue
to prosper into the future.
One
of the highlights of the trip has been the extraordinary
team of experts on this trip. The international
experts are among the best in the world. They are
extremely knowledgeable about coral reefs, very
generous with their skills and knowledge, and are
always a pleasure to work with. The Indonesian team
members are also a remarkable group of people, each
an expert in their chosen fields with valuable local
knowledge and experience.
One
of the best parts of this survey has been watching
the local and international scientists interact.
The last few nights we have sat in the moonlight
on the top deck having detailed discussions about
coral reefs - their biodiversity, biogeography,
ecology and evolution. The whole team was involved
– for hours at a time. Lyndon and Emre led
a discussion about disturbances, focused on corals
and crown of thorns starfish, and Gerry led a discussion
about biogeography and evolution of coral reef fishes.
It was great watching the level of interest and
discussion between the groups of scientists, and
an excellent way to end the survey.
Great
friendships have been made, both personal and professional,
which will continue long after this trip is over.
Several of the Indonesian participants are interested
in studying overseas, and the international scientists
will help them with their aspirations. All of the
international experts are looking forward to returning
to Indonesia, to survey these extraordinary reefs
again and spend more time with their Indonesian
colleagues in the field.
The
survey has been a remarkable experience, and one
we will never forget. Halmahera is an extraordinary
place – the heart of the heart of the Coral
Triangle.
Ali
and the survey team
|
.jpg) |
Hari
17
TELUK BULI - 29 APRIL 2008 - 00º
47.457’ N 128º
19.279’ T
 |
| Kami
sudah berlayar sejauh 800 km dan sampai di titik
pertengahan perjalanan kami. Hitungan spesies meningkat
terus. Sampai saat ini kami sudah mencatat 460 spesies
karang dan 30 lebih yang masih memerlukan studi
lanjutan dan mungkin menambah daftar yang sudah
ada. Mungkin juga ada spesies baru diantaranya!.
Keragaman lokal juga sangat mengesankan, dengan
jumlah spesies karang per lokasi paling tinggi secara
global berada disini di Halmahera. Spesies ikan
terumbu karang juga terus bertambah pada laju rekor,
dengan 975 spesies terekam dari Halmahera sampai
sekarang, termasuk spesies dottyback dan spinecheek.
Banyak dari hitungan spesies di setiap lokasi mencapai
lebih dari 200 spesies, yang sekali lagi termasuk
baik sekali dalam skala dunia. 147 spesies krustasea
(termasuk 26 spesies udang mantis) dan 42 spesies
ekinoderma juga tercatat. Jadi Halmahera sesuai
dengan harapan kami sebagai salah satu wilayah yang
paling beragam di planet ini
Mengapa Halmahera
begitu beragam? Ada beberapa alasan. Pertama-tama,
seperti agen real estat selalu mengatakan, lokasi,
lokasi, lokasi. Halmahera memiliki keragaman habitat
laut dan pesisir yang sangat tinggi dan berada di
jantung Segitiga Karang, wilayah dengan keragaman
hidupan laut tropis yang tertinggi di dunia. Sekalipun
hanya mencakup kurang dari 2% lautan di dunia, Segitiga
Karang memiliki proporsi keanekaragaman hayati yang
mencengangkan – kurang lebih 30% dari terumbu
karang dunia, 76% spesies karang dan hampir 40%
spesies ikan karang dunia. Keragaman yang luar biasa
tinggi di wilayah ini terjadi karena beberapa hal.
Segitiga Karang berada di khatulistiwa dimana Samudra
Pasifik dan Hindia bertemu, sehingga hidup spesies-spesies
berasal dari kedua samudra ini. Proses geologi termasuk
bentang tektonis dan perubahan permukaan air laut
berperan penting juga, spesies terumbu karang berevolusi
dan bertahan selama muka air laut rendah, sementara
terumbu di belahan dunia lain dalam kondisi merana.
Apapun alasannya, jelas area yang luas dan beragam
habitat dan kondisi lingkungan yang luar biasa berperan
dalam memelihara keanekaragaman hayati yang tinggi
di Halmahera khususnya dan Segitiga Karang secara
Umum
Wilayah dengan
keragaman tinggi memiliki banyak spesies aneh dan
menarik, dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna.
Ini ada beberapa contoh dari Segitiga Karang
Ali
dan tim keanekaragaman hayati (Indra, Ucu, Emre,
Lyndon, Gerry dan Mark)

Website:
Untuk animasi bentang tektonik di Asia Tenggara,
lihat website Dr Robert Hall di http://www.gl.rhul.ac.uk/seasia/welcome.html
|
 |
.jpg) |
 |
| Day
17 April 29th
Teluk
Buli (Buli Bay) - Coordinates N 00º
47.457’ E 128º
19.279’
We
have now sailed 800kms and reached the half way
point of our journey. The species count continues
to rise. So far we have recorded 460 confirmed coral
species and 30 or so that require further study
and may add to the list. There may even be some
new species in there! Local diversity has also been
very impressive throughout, with the highest coral
species count per site recorded from any reef location
globally occurring right here on this trip in Halmahera.
Coral reef fish species are also accumulating at
a record pace, with 975 species recorded from Halmahera
to date, including new species of dottyback and
spinecheek. Many of the species counts for each
site are over 200 species, which is again considered
excellent on the world scale. 147 species of crustaceans
(including 26 species of mantis shrimp) and 42 species
of echinoderm have also been recorded. So Halmahera
is living up to our expectation as one of the most
diverse areas on the planet.
Why
is Halmahera so diverse? There are several reasons.
Firstly, as the real estate agents like to say,
its ‘Location, location, location’.
Halmahera has a highly diverse range of coastal
and marine habitats and is situated in the heart
of the Coral Triangle (CT), which has the highest
tropical marine diversity on earth. Despite encompassing
less than 2% of the world’s oceans, the CT
comprises staggering proportion of the biodiversity
- approximately 30% of the world’s coral reefs,
76% of the coral species and almost 40% of the world’s
coral reef fish species. The extraordinarily high
diversity of this area is due to a number of causes.
The Coral Triangle is located equatorially where
the Pacific and Indian Oceans meet, and so it comprises
species from both oceans. Geological processes including
plate tectonics and sea level changes have also
played important roles, with coral reef species
evolving and persisting during low sea level events,
while reefs in many other parts of the world were
high and dry. Whatever the reason, it is clear that
the large area and extraordinary range of habitats
and environmental conditions have played a major
role in maintaining the staggering biodiversity
of Halmahera in particular and the Coral Triangle
more generally.
High
diversity areas have lots of weird and wonderful
species, in many shapes, sizes and colours. Here
are some examples from the Coral Triangle.
Ali
and the biodiversity team (Indra, Ucu, Emre, Lyndon,
Gerry and Mark)

Website:
For
a cool animation of plate tectonics in Southeast
Asia, see Dr Robert Hall’s website at http://www.gl.rhul.ac.uk/seasia/welcome.html
|
 |
Hari
16
TELUK BULI - 28 APRIL 2008 - 00º
47.457’ U 128º
19.279’ T
 |
| Menjadi
Sebuah Spesies atau Tidak
Salah satu ikan
yang paling menarik ditemui pada ekspedisi ini adalah
ikan anemon ”odd-ball” yang sangat jarang
tetapi sudah terlihat dua kali selama satu minggu
belakangan ini ketika kami menyelam di terumbu luar
timur laut Halmahera. Ikan ini, ikan anemone ‘bertopi’
putih, memiliki cerita menarik.
Di tahun 1973,
Gerry Allen menemukan spesies baru ikan anemon,
yang kemudian dia beri nama Amphiprion leucokranos,
biasa dikenal dengan ikan anemone topi-putih. Penemuan
ini terjadi di Madang, pesisir utara Papua New Guinea
Pola yang sangat
aneh muncul, ketika Dr. Allen mempelajari ikan ini
pada habitat alaminya selama beberapa dekade selanjutnya.
Seperti semua anggota genus Amphiprion, selalu berasosiasi
dengan anemon laut, yang memberikan sebuah surga
aman diantara tentakel yang menyengat ikan-ikan
lainnya. Ikan anemon terlindungi oleh senyawa kimia
khusus pada lendir tubuhnya yang menahan reaksi
sengatan. Tidak seperti ikan anemon lainnya, topi-putih
jarang berasosiasi dengan ikan sejenisnya. Tetapi
biasanya berpasangan dengan ikan anemon oranye (Amphiprion
sandaracinos) atau ikan anemon bersirip oranye (A.
chrysoperus).
Beberapa tahun
lalu di Teluk Kimbe, Papua New Guinea, Gerry sangat
terkejut ketika dia menemukan sepasang dua spesies
lainnya (ikan anemone oranya dan ikan anemone bersirip
oranye) menjaga sarang telur-telur. Tiba-tiba menjadi
jelas baginya bahwa ikan anemone topi-putih adalah
hibrida dari kedua spesies ini.
Aspek yang menarik
dari fenomena ini adalah rupanya sejumlah besar
hibrida bertahan hidup dan kawin dengan sesamanya,
menelurkan anak-anak yang mampu hidup terus. Kondisi
ini telah berjalan selama ratusan tahun hingga hibrida
tersebut dapat dengan mudah ditemukan di wilayah
pertemuan spesies kedua orangtuanya, diantaranya
pulau-pulau Solomon, New Guinea, dan bagian dari
Indonesia timur. Hibrida topi-putih tidak pernah
dilihat di lokasi dimana hanya ada satu orangtuanya
yang hidup, seperti sirip-oranye di seluruh Melanesia
atau untuk ikan anemone oranye di sebagian besar
kepulauan Indo-Malaya
Sekalipun sekarang
kita sudah memiliki bukti yang baik bahwa topi-putih
adalah jenis hibrida, tetap harus dibuat argumentasi
yang kuat bahwa topi-putih adalah spesies yang valid
hasil fenomena hibridisasi. Evolusi spesies melalui
hibridisasi seperti ini diketahui terjadi juga pada
kelompok organisme lainnya, seperti tumbuhan dan
terumbu karang. Dr. Allen sedang melakukan studi
genetik tentang hal ini dengan tim di Boston University
dan Atlanta Aquarium.
Apa yang terjadi
di alam berbeda dengan apa yang kita pelajari di
sekolah – bahwa spesies berbeda tidak bisa
saling kawin dan memproduksi anak-anak yang mampu
bereproduksi. Tampaknya tidak sesederhana itu.
Ali & Gerry
|
 |
| Ikan
anemon topi-putih dengan ikan anemon sirip-oranye:
dua spesies atau satu setengah? 
The White-bonnet Anemone Fish
with an Orange-finned Anemonefish: two species or
one and a half? [Photo by Gerry Allen]
|
 |
 |
Day
16 April 28th
Teluk
Buli (Buli Bay)
Coordinates N 00º
47.457’ E 128º
19.279’
To
Be A Species or Not to Be
One
of the most interesting fishes encountered so far
on our expedition is a rare “odd-ball”
anemonefish that has been seen twice over the past
week while diving on outer reefs of northeastern
Halmahera. This fish, the White-bonnet anemone fish
has a very interesting story. |
Ikan
anemon topi-putih. Apakah ini spesies yang sesungguhnya?

The White-bonnet Anemonefish.
Is a true species? [Photo by Gerry Allen]
|
| |
| In
1973, Gerry Allen discovered what appeared to be
a new species of anemonefish, which he named Amphiprion
leucokranos, commonly known as the White-bonnet
anemonefish. The original discovery was made at
Madang on the northern coast of Papua New Guinea.
A
very strange pattern emerged as Dr. Allen studied
this fish in its natural habitat over the next few
decades. Like all members of genus Amphiprion it
is invariably associated with large sea anemones,
which offer its fish host a safe haven among its
tentacles that sting all other fishes. Anemonefishes
are protected by a special chemical compound in
its body slime that suppresses the normal stinging
reaction. But unlike other anemonefishes, the White-bonnet
seldom associates with fish of its own kind. Rather
it is usually paired up with either the Orange Anemonefish
(Amphiprion sandaracinos) or the Orange-finned Anemonefish
(A. chrysoperus).
Gerry
got a shock several years ago at Kimbe Bay, Papua
New Guinea when he found a pair of the other two
species (Orange Anemonefish and Orange-finned Anemonefish)
tending a nest of eggs! It suddenly became clear
to him that the White-bonnet anemonefish was in
fact a hybrid cross of these two species.
The
intriguing aspect of this phenomenon is that an
apparently large number of the hybrids survive and
then mate with each other, producing viable offspring.
This state of affairs has apparently persisted over
thousands of years to the extent that the hybrid
can be predictably found throughout the co-occurring
range of the parental species, which includes the
Solomon Islands, New Guinea, and parts of eastern
Indonesia. Likewise, the hybrid White-bonnet never
occurs when only one of the parent species is present
as is the case for the Orange-finned throughout
Micronesia and Polynesia or for the Orange Anemonefish
over much of the Indo-Malayan Archipelago.
Even
though we now have good evidence that the White-bonnet
is a hybrid a strong argument can be made that it
is actually a valid species resulting from the hybridization
phenomenon. Similar evolution of species via hybridization
is known to occur in other groups of organisms,
notably plants and reef corals. Dr Allen is currently
conducting genetic studies of this problem with
a team from Boston University and the Atlanta Aquarium.
So
much for what we learned in school – that
different species cannot interbreed and produce
viable reproductive offspring. It seems it is not
that simple!
Ali
& Gerry
|
 |
Hari
15
TELUK BULI
- 27 APRIL 2008 - 00º 47.457’ U 128º
19.279’ T
 |
| Mark
Erdmann, ahli udang mantis di kelompok kami, menemukan
hal yang sangat menggembirakan di belahan timur –
utara Halmahera. Dia menemukan satu spesies udang
mantis yang masih baru bagi dunia ilmu pengetahuan.
Udang mantis
memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Beberapa diantaranya
cukup besar (panjang sekitar 35 cm), sementara yang
lainnya kecil (kurang lebih 1 cm). Spesies yang
baru berukuran kecil (panjang 1 cm), dan mengagumkan
Mark bisa menemukannya diantara susunan terumbu
karang yang sangat kompleks.
Udang mantis
adalah jenis krustasea, seperti kepiting atau udang.
Mereka karnivora dan memiliki anggota badan khusus
yang digunakan untuk membunuh mangsanya. Beberapa
spesies memiliki alat pemukul (penghancur) sementara
yang lainnya memiliki cakar. Sekalipun kecil, spesies
yang baru adalah seekor penghancur!
Saya bertanya-tanya
berapa banyak spesies baru yang akan kami temukan
lagi?
Ali
|
 |
| Udang
mantis memperlihatkan anggota badan yang digunakan
untuk memangsa. Yang ini seekor penyayat!
A mantis shrimp showing
his raptorial appendages. This one is a slasher!(Foto:
Gerry Allen)
 |
 |
Day
15 April 27th
Teluk Buli (Buli
Bay)
Coordinates N 00o
47.457’ E 128 o 19.279’
Mark
Erdmann, our resident mantis shrimp expert, made
an exciting discovery on the northeastern side of
Halmahera. He discovered a species of mantis shrimp
that is completely new to science.
Mantis
shrimps come in many shapes and sizes. Some are
quite large (about 35cm long), while others are
very small (about 1cm). The new species is tiny
(about 1cm long), and its amazing Mark could find
it among the startling complexity of a coral reef.
Mantis
shrimp are crustaceans, like crabs or shrimps. They
are carnivores and have specialized raptorial appendages
they use to kill their prey. Some species have clubs
(smashers), while others have claws (spearers).
Despite its small size, the new species is a smasher!
I
wonder how many more new species we will find?
Ali

<--
The
new species is tiny (about 1cm long), and its amazing
Mark could find it among the startling complexity
of a coral reef. |
Mark
Erdmann menemukan spesies udang mantis baru.

Mark Erdmann discovers a new species of mantis shrimp.
[Photo: Erdi Lazuardi] |
 |
|

|
Hari
14 TELUK
BULI - 26 APRIL 2008 - 0º
50.515 U 128º
26.766’T
 |
| Menyelam
lagi di Teluk Buli hari ini, dan menemukan terumbu
yang tampaknya berhasil menghindar dari outbreak
bintang laut berduri. Di tempat yang dangkal banyak
ditemukan karang meja yang besar-besar dan tutupan
karang yang baik. Karang-karang ini adalah salah
satu makanan yang diminati oleh bintang laut, jadi
menyenangkan melihatnya tumbuh subur di teluk. Saya
dan Andreas Muljadi menemukan koloni Porites rus
yang luar biasa, menjulang setinggi 3. Emre Turak
dan Lyndon Devantier memperkirakan koloni ini berusia
dua ratus tahun.
Joanne Wilson
juga membuat penemuan yang menarik. Dia menemukan
telur-telur di beberapa karang cabang. Ini sangat
menarik karena sangat sedikit kita mengetahui tentang
reproduksi karang di Indonesia. Tetaplah bersama
kami dalam beberapa hari ke depan sambil Joanna
melakukan investigasi lebih lanjut
Ali |
 |
Lapisan
karang yang tumbuh subur di Teluk Buli
Flourishing plate corals
in Buli Bay.
[Photo: Emre Turak]
|
| Day
14 April 26th
Teluk
Buli (Buli Bay)
Coordinates
N 0o 50.515 E 128 o 26.766’
Went
for another dive in Buli Bay today, and found a
reef that seems to have escaped the crown-of-thorns
starfish outbreak. In the shallows there were many
large table corals and good coral cover. These corals
are among the preferred food for the starfish, so
it was great to see them flourishing in the bay.
Andreas Muljadi and I also found a remarkable colony
of Porites rus, with 3m high spires. Emre Turak
and Lyndon Devantier estimated that this colony
is over two hundred years old.
Joanne
Wilson also made an interesting discovery. She found
eggs in some of the branching corals. This is exciting
because very little is know about coral reproduction
in Indonesia. Stay tuned for more on this in the
next few days as Joanne investigates this further.
Ali
|
 |
Alison
Green dengan karang setinggi 3m.
Alison
Green with 3m high coral spires.
[Photo: Andreas Muljadi] |
 |
| |
| |
Hari
13
TELUK BULI - 25 APRIL 2008 - 0º
44.005’U 128º
27.121’T
 |
| Seharian
menyelam di Buli. Penyelaman pertama di Terumbu
Woi (Woi Reef), di tengah-tengah teluk. Ini pertama
kalinya kami melihat bukti adanya outbreak bintang
laut berduri,yang memakan karang-karang. Spesies
ini seringkali ada di terumbu dalam jumlah kecil,
tetapi kadang-kadang terjadi peningkatan populasi
yang sangat cepat, biasa disebut dengan outbreak,
yaitu ketika ribuan bintang laut berduri merusak
terumbu karang. Di Woi Reef, kami menemukan kerusakan
berat (karang mati tertutup alga) dan banyak bintang
laut berduri, yang menyebabkan kerusakan tersebut
dan ‘menyapu’ sisa-sisa karang yang
tertinggal.
Penyebab
outbreak merupakan salah satu isu panas yang banyak
diperdebatkan di dunia sains kelautan, terutama
apakah mereka terkait dengan dampak dari kegiatan
manusai atau tidak. Ketika berkumpul pada masa outbreak,
bintang laut berduri dapat memproduksi larva dalam
jumlah yang sangat banyak (milyaran) sehingga populasi
mereka sangat berfluktuasi. Nutrien tinggi dalam
air meningkatkan daya tahan hidup larva bintang
laut berduri, pengambilan ikan-ikan pemangsa bintang
laut berduri secara berlebih juga mendukung daya
tahan hidup mereka – satu bentuk umpan balik
positif. Saat ini, banyak peneliti percaya outbreak
disebabkan oleh kualitas air yang menurun dan pengambilan
ikan berlebih yang berkaitan dengan dampak dari
kegiatan manusia.
Ali
& Lyndon
|
 |
Day
13
Teluk Buli (Buli
Bay)
25 APRIL 2008 - 0º
44.005’U 128º
27.121’T
|
| Spent
the day diving in Buli. The first dive was on Woi
Reef, in the middle of the bay. This was the first
time we have seen evidence of a serious outbreak of
the crown of thorns starfish, which eat corals. This
species is often present on reefs in low numbers,
but sometimes there is a major rapid increase in the
population, termed an “outbreak”, when
thousands of starfish severely damage coral reefs.
At Woi Reef, we found extensive damage (dead corals
covered by algae) and lots of crown of thorns, which
had caused the damage and were ‘mopping up’
many of the remaining corals. The
reason for these outbreaks is one of the most hotly
debated issues in marine science, particularly whether
they are linked to human impacts or not. When aggregated
in an outbreak, the starfish can produce huge numbers
(billions) of larvae and hence their populations
are prone to major fluctuations. Enhanced nutrients
in the water contribute to higher survival of starfish
larvae, while overfishing of starfish predators
can also promote their survival – a form of
positive feedback. These days, most scientists believe
outbreaks are caused by declining water quality
and overfishing linked to human impacts.
Ali
& Lyndon
 |
Hari
12
TELUK BULI - 24 APRIL 2008
 |
| Hari
ini kami berlayar menuju Buli, mengucapkan selamat
tinggal pada Rod dan Kent, dan menyambut Joanne
dan Sterling sebagai anggota tim. Sekalipun sedih
melihat Rod dan Kent pergi, saya sangat menunggu
kedatangan Joanne. Seperti biasa, saya selalu menjadi
satu-satunya perempuan dalam tim survey. Memang
semua pria di tim sangat baik dan saya menyenangi
mereka, tetapi akan lebih senang bila ada perempuan
lagi di kapal.
Pagi
ini kami keluar dari air sambil menunggu kapal terbang
datang. Perubahan yang ditunggu istirahat dari menyelam,
sekalipun hanya untuk beberapa jam. Sekalipun penyelaman
luar biasa, tetapi melelahkan dan baik sekali-kali
beristirahat di tengah-tengah survey. Memberi kami
kesempatan untuk santai sedikit, dan mengejar pekerjaan
rumah kami (memproses data dan spesiment). Baik
juga keluar dari air pagi ini untuk memberi kesempatan
nitrogen yang terakumulasi akibat menyelam, keluar
dari sistem kami karena terlalu banyak nitrogen
dapat menyebabkan kejang/kelumpuhan (bends). Tetapi
tidak ada istirahat bagi orang-orang hebat, kami
semua ingin kembali ke air sore ini.
Beberapa
hari terakhir ini sangat menarik. Sambil menyusuri
Halmahera kami melihat fauna terumbu karang berubah.
Sekarang kami berada di bagian timur pulau, kami
melihat banyak spesies-spesies Pasifik. Satu alasan
mengapa Halmahera begitu beragam karena di Indonesia
lah, Lautan Pasifik dan Hindia bertemu. Jadi, di
tempat ini spesies dari kedua lautan tumpah tindih.
Berada di sebelah timur Halmahera dengan spesies
dari Pasifik – saya merasa akrab seperti dengan
kawan lama. Saya meluangkan sebagian besar karir
saya bekerja dan menyelam di terumbu Pasifik
Alison
|
 |
Day
12
Teluk Buli (Buli
Bay)
Today
we sailed into Buli, said goodbye to Rod and Kent,
and welcomed Joanne and Sterling to the survey team.
As sad as I was to see Rod and Kent leave, I’ve
been looking forward to Joanne coming. As usual,
I’ve been the only woman on the survey team.
And while the guys are great and I love it, it will
be fun to have another woman on board.
We
also had a morning out of the water this morning
while we waited for the plane to come in. It was
a welcome change to have a rest from diving, if
only for a couple of hours. While the diving is
fantastic, it is tiring and it’s good to have
a break in the middle of the survey. It gave us
all a change to relax a bit, and catch up on our
homework (processing data and specimens). It is
also good to have a morning out of the water to
allow some of the nitrogen we have accumulated from
diving to leave our system, because too much nitrogen
can lead to “the bends”. But there is
no rest for the wicked, and we are all keen to get
back in the water again this afternoon.
The
last couple of days have been very interesting.
As we make our way around Halmahera the coral reef
fauna is changing. Now we are on the eastern side
of the island we are seeing more Pacific species.
One of the reasons that Halmahera is so diverse
is that it is in Indonesia, where the Pacific and
Indian Oceans meet. So it is where species from
both oceans overlap. Now we are on the east side
of Halmahera, we are seeing more of the Pacific
species – old friends for me, since I’ve
spent most of my career working and diving on Pacific
reefs.
Alison
|
 |
Ikan
kupu-kupu (butterfly fish) dengan pola jaring-jaring
– kawan lama dari pulau-pulau Pasifik (Foto:
Gerry Allen)
The reticulated butterflyfish
– an old friend from the Pacific Islands. [Photo:
Gerry Allen] |
 |
Tim
survey Halmahera – bunga mawar diantara duri?
(Foto: Erdi Lazuardi)

Halmahera survey
team – a rose among thorns? [Photo: Erdi Lazuardi]

|
Hari
11
1º
31.367' U; 128º 43.548' T
 |
Hari
ini banyak waktu melihat komunitas karang di lokasi
terlindung yang memiliki cerita sama; distribusi
karang berukuran sama yang terpisah-pisah. Ini menunjukan
pertumbuhan secara teratur pada waktu yang berbeda
pada lokasi yang berbeda.
Tim
daratan beruntung melihat pantai peneluran penyu
belimbing, jadi beberapa orang dari kami mendarat
dan memutuskan berjalan di pantai sepanjang 15 km
itu. Ini adalah awal dari suatu petualangan. Kami
menemukan jejak peneluran penyu lekang dan bukti
lebih lanjut bahwa telur-telurnya telah diambil
orang. Kami menyeberang melintasi dua muara, satu
diantaranya memiliki arus kencang menuju ke laut
dan beberapa buaya ''kali" (berarti buas).
Rupanya sang buaya lebih menyukai tempat dengan
air yang lebih segar, itu yang kami harapkan, dan
menyebrang mendinginkan kami, membersihkan garam
dan latihan yang baik karena kami harus mempertahankan
tempat berpijak kami dalam arus.
Pengemudi
perahu di pantai, tak sabar [membawa kami kembali]
mendekat ke pantai dan terperangkap dalam ombak
besar yang menyebabkan perahu terbalik dan membuat
kami harus berjuang dalam ombak besar dan merenungkan
apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kami berhasil
membawa perahu melalui ombak besar dan mengayuh
melewatinya bersama dengan anggota kami yang tidak
terlalu pandai berenang dan kurang pengalaman. Ketika
kami hampir keluar dari zona berbahaya, lumba-lumba
kecil muncul ke permukaan dekat bagian depan perahu,
lalu menghilang.
Kami
akan saling bertukar tempat esok hari. Dengan rasa
sedih Kent Carpenter dan saya meninggalkan kapal
dan akan digantikan oleh Joanne Wilson dan Sterling
Zumbrunn
Rod.
 |
| Day
11
1º
31.367' N; 128º 43.548' E
Today
was more time over coral communities in a sheltered
location that yielded the same story of patchy distribution
of corals. These patches have corals that are mostly
in the same general size class which indicates pulses
of recruitment at different times.
The
land team got wind of an apparent major leatherback
nesting beach, so a few of us landed and decided
walk the 15 km beach. I, as a person passionate
about sea turtles, and providing some training on
nesting beach assessments, happily joined them.
That was the beginning of quite an adventure. We
did find the tracks of nesting olive Ridleys turtles
and further evidence that their eggs were collected
by people. We waded across two estuaries, one that
had a strong current flowing out to sea and crocodiles.
Evidently the crocs preferred the fresher water
areas, which we were rather banking on, and the
crossing just cooled us, washed off the salt and
gave us a good workout maintaining our footing in
the current.
Our
boatman offshore, anxious to [pick us up] ventures
in close to shore, got caught in an unfortunate
huge wave that tipped the boat over. This left us
fighting to right it in the surf and then contemplate
our next move. With the help of some great swimmers
from the nearby tiny village, we managed to swim
the boat out through the surf and paddle it beyond
the surf along with those of our number less aquatic
by nature and experience. Just as we cleared the
danger zone, a single small dolphin surfaced close
in front of the boat and then was gone.
We
have a changeover tomorrow. With great sadness Kent
Carpenter and I leave the boats and will be replaced
by Joanne Wilson and Sterling Zumbrunn.
Rod
 |
Hari
10
0º
52.816' U; 127º
41.730' T
 |
Kami
menjelajah lingkungan terumbu karang di pedalaman
Teluk Kau. Kondisi yang terlindungi memungkinkan
pertumbuhan karang batu besar berpola seperti susunan
batu bata berjajar horisontal dan tinggi membuat
pemandangan bawah laut yang surreal seperti dalam
film Lord of the Rings . Nelayan yang menggunakan
potas beroperasi disini, meninggalkan jejak bidang
putih pada karang staghorn di sekitar lubang yang
digali untuk mengambil ikan yang sudah pingsan.
Karang
terdistribusi secara tidak merata dalam bidang-bidang
yang didominasi oleh berbagai spesies, kadang-kadang
pada bidang yang cukup besar, dan mereka tampaknya
berumur sama bila dilihat dari kesamaan ukurannya.
Hal ini memberikan kesan bahwa ada pertumbuhan yang
baik pada waktu yang berbeda untuk spesies yang
berbeda.
Nurhalis
Wahidin (Uda) dan Erdi Lazuardi, yang mengukur penutupan
bentik secara konsisten pada kedalaman 12 dan 4
m, menyimpulkan rata-rata 50% tutupan karang keras
di Pulau Sidanga, tanjung bagian utara dari pulau-pulau
Loloda Selatan, pulau Tagalaya dan Takau, tetapi
mencapai 75% pada lokasi terbaik. Rata-rata tutupan
secara keseluruhan pada kedua kedalaman ini sekitar
31% dan lebih tinggi pada kedalaman lebih dangkal.
Puing-puing karang mendominasi beberapa lokasi disebabkan
oleh pemboman. Beberapa lokasi memiliki pertumbuhan
yang baik seperti diperlihatkan oleh banyak koloni-koloni
kecil karang keras.

|
 |
| Day
10
0º
52.816' N; 127º
41.730' E
We
covered reef coral environments deep in Kau Bay.
The sheltered conditions enabled growth of boulder
corals topped by castellations and spires creating
a surreal seascape fitting of the Lord of the Rings.
The cyanide fishers are at work here, leaving their
telltale white patches in the stagshorn coral surrounding
a hole dug in to remove the stunned fish.
The
corals are unevenly distributed in patches dominated
by different species sometimes over large areas
and of apparently the same age judging by the evenness
of their size. This would suggest pulses of good
recruitment and growth at different times for the
different species.
Nurhalis
Wahidin (Uda) and Erdi Lazuardi, who are measuring
benthic cover consistently at 12m and 4m depths,
an average of 50% hard coral cover was found at
Sidanga Is., Northern Cape of Loloda Selatan Is.,
Tagalaya Is., and Takau Is., but reaches over 75%
at the best location. The overall average at these
two depths is only about 31 % and is higher at the
shallower depth. Coral rubble dominates at several
sites caused by blast fishing. Some sites had good
recruitment as shown by many small hard coral colonies.
Rod |
Hari
9
1º
44.366' U; 128º
4.10' T
 |
| Besar
hati rasanya menemukan koloni karang yang tumbuh
dengan subur dan utuh menutupi 70 hingga 90% terumbu.
Kedua lokasi yang terbuka dan terlindungi yang kami
kunjungi hari ini memiliki taman karang yang indah
tetapi berbeda. Lokasi yang terbuka memiliki koloni
yang lebih kuat dengan bentuk dan ukuran beragam,
dengan karang meja hampir mencapai lebar 3 m. Karang
di habitat yang terlindungi seperti berasal dari
dunia lain – koloni besar dan rapuh dari karang
bercabang-cabang setipis pensil dan karang meja
yang besar. Semua ini mengindikasikan sedikitnya
gangguan di lokasi-lokasi ini dan daya tahan alamiah
dari komunitas karang disini.
Tetapi,
terlihat dengan jelas pernah ada kematian karang
yang meluas sekitar lebih dari 10 tahun lalu, bukti-bukti
terlihat di beberapa tempat – tumpukan karang
bercabang yang sudah lama mati atau sisa-sisa karang
meja besar yang perlahan-lahan ditumbuhi oleh karang-karang
baru. Dimana kondisi memungkinkan pertumbuhan karang
secara baik, karang-karang mati dengan cepat ditumbuhi
karang baru. Kami mencoba menentukan penyebabnya,
tetapi kemungkinan besar karena pemutihan karang
yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 1998 atau
karena gangguan bintang laut berduri. Dengan berlalunya
waktu, mengindentifikasi akibat dari kematian secara
pasti menjadi lebih sulit.
Jumlah
hitungan spesies terus bertambah, sekarang disertai
dengan spesies yang sangat jarang atau spesies yang
hanya hidup di lingkungan tertentu saja.
Malam
ini kami membuang sauh di teluk yang ’ramai’
dengan ikan teri. Mereka terlihat seperti percikan
perak di sekitar kami ketika tersorot sinar lampu.
Tidak aneh kami melihat paus Brydes ketika kami
masuk menuju teluk.
Mungkin banyak cerita lagi nanti....

|
| Day
9
1deg 44.366mins N; 128 deg 4.10mins E
It
is hugely encouraging to find such vigorously growing,
intact coral colonies covering 70->90% of the
reef. Both the exposed and sheltered sites we visited
today had beautiful but different coral gardens.
The exposed site had more robust colonies of varying
shapes and sizes, with some table corals reaching
nearly 3m across. The corals in the sheltered habitat
were other worldly – large fragile colonies
of pencil thin branching corals and huge tables.
All of this indicates little disturbance to these
sites and the enduring nature of the coral communities
here.
However,
there clearly was a major and widespread coral mortality
10 or more years ago and many areas show the evidence
– banks of old dead branching corals or the
remains of large tables that are slowly being settled
by new recruits. Where conditions favor vigorous
coral growth, the long dead corals or almost completely
overgrown. We will focus on trying to determine
the cause if at all possible, but it is likely either
bleaching linked to the worldwide 1998 bleaching
or a major crown-of-thorns starfish infestation.
With each year that passes, identifying the cause
of mortality with any confidence is compromised.
The
species continue to grow, supplemented now by the
rarer species or those specialized to live in particular
environments.
We
are anchored this evening in the rich waters of
a bay that is alive with anchovies. They are like
silver spray in our lights around us. Its little
wonder we saw a Brydes whale on our way into the
bay
More
later perhaps….
Rod
|
Hari
8 - Morotai
Timur
2º
11.554’ U; 128º 57.366’ T
|
| Hari
ini penuh dengan maslahat. Catatan yang baik, penyelaman
yang bagus, kebajikan di pantai, dan kegembiraan.
‘Yahoo’ adalah kata pertama yang keluar
dari Andreas Muljadi ketika ia muncul di permukaan
air sore ini. Dia bersama tim ikan mencatat 30 bumphead
parrotfishes (ikan kaka tua) yang besar-besar, kelompok
Napoleon wrasse, dan kelompok kecil kerapu karang
diantara hiu-hiu, barakuda, dan ikan-ikan besar
lainnya. Andreas bertahun-tahun melakukan pemantauan
lokasi pemijahan (SPAG) dan menganggap lokasi penyelaman
sore ini sebagai lokasi SPAG. Jika kumpulan ikan-ikan
itu sudah berada disana selama karang raksasa yang
menjulang di atas kami, maka bisa jadi ikan-ikan
itu telah menggunakan lokasi ini sebagai tempat
pemijahan selama lebih dari 1.000 tahun.
Spesies
Pasifik terlihat pada penghitungan ikan hari ini.
Spesies karang secara umum memiliki distribusi geografis
yang luas sehingga kecil kemungkinan adanya pengaruh
Pasifik. Indra Bayu Vimono telah meningkatkan hitungan
echinoderma diatas 30 spesies, feather star belum
dimasukan kedalam hitung ini, krustasea sudah mencapai
lebih dari 130 spesies dan beberapa belum diidentifikasi.
Berita
besar, kami menemukan dua jenis ikan dottyback baru
dan satu spesies lagi yang diduga baru, masih diamati
dengan cermat.
Penyu
lekang betina yang masih hidup ditemukan di satu
desa, hari ini. Anggota tim mengumpulkan uang untuk
membeli dan melepaskannya sehingga bisa bersarang
di hari lain. Tim daratan, Imran Taeran, Anwar Ibrahim
dan Erick Zulhikman menemukan bahwa sistem tradisional
sasi masih hidup dan berjalan di desa ini. Menghukum
anggota masyarakat yang melanggar aturan tradisional
yang mengelola perikanan garfish.
Rod
snorkeling dengan 8 ekor spinner dolphins (lumba-lumba)
agak jauh dari terumbu karang pada kedalaman 120
feet (+ 40 m). Dia tidak tahu mana yang lebih menyenangkan,
berenang dengan lumba-lumba atau berada di air yang
demikian jernih sehingga dapat melihat dasar laut
lebih dari 100 feet (+ 33m)
Rod.
|
| Day
8 - East
Morotai
2º 11.554’ N; 128º 57.366’
E
Today
was very rewarding all around. Good records, good
diving, a good deed ashore, and good fun. “Yahoo”
was the first word from Andreas Muljadi as he broke
the surface this afternoon. He and the fish group
recorded a school of 30 large bumphead parrotfishes,
a group of Napoleon wrasse, and a small aggregation
of coral trout, among sharks, barracuda, and other
great fishes. Andreas has years of experience monitoring
fish spawning aggregations and considers our afternoon
site one. If the aggregation has been there as long
as the huge coral head that towers above it, fishes
would have been using this site to spawn for more
than 1,000 years.
Pacific
species showed up today in the fish counts. Coral
species generally have a wider geographic distribution
and so there are no likely Pacific influences. Indra
Bayu Vimono has raised the echinoderms over the
30 species mark, with all the feather stars still
to be added, and crustaceans are up at over 130
species, with a number still to be identified.
The
big news is that we have two new dottyback fish
species, and another suspected new species still
under close scrutiny.
A
live female olive Ridley turtle was found in a village
today. The guys had a whip around and raised the
money needed to buy and free it to nest another
day. The land team, Imran Taeran, Anwar Ibrahim,
and Erick Zulhikman found the traditional sasi system
alive and well in this village. Woe betide any community
members that infringe the traditional regulations
governing the garfish fishery.
Rod
snorkelled with a group of 8 spinner dolphins off
the reef in 120 feet of water. He doesn’t
know which is more exciting, swimming with dolphins
or being in water so clear that the bottom is quite
clear over 100 feet down.
Rod.
 |
 |
Bluetangs
muda atau palette surgeonfish, atau lebih dikenal
sebagai Dory dalam filem “Finding Nemo”
(Foto: Gerry Allen)
|
| Young
bluetangs or palette surgeonfish, or Dory in “Finding
Nemo” photo by
Gerry Allen. |
 |
Spesies baru
dottyback dengan taring yang mengesankan (Foto:
Gerry Allen)
|
|
A new species of dottyback baring
some impressive fangs. photo by Gerry
Allen |
 |
Asril
Djunaidi melepas penyu sisik (Foto: Erick Zulhikman)
|
| Asril
Djunaidi releasing a hawksbill turtle. photo
Erick Zulhikman |
|

Hari
6 - Pulau
Rau
2der 17.224men U; 128der 9.723men T
 |
| Setiap
orang harus mengisi kembali rasa optimismenya terhadap
kelangsungan hidup terumbu karang dengan mengunjungi
lokasi yang kami lihat pagi ini. Mulai dari pinggir
pantai disamping kampung di Pulau Rau hingga puncak
terumbu, lereng karang dangkal dan bagian atasnya,
mendukung taman karang berwarna-warni. Tak ada satupun
karang yang patah dan komunitas terumbu memancarkan
ketahanannya. Di jaman sekarang dengan ekspoitasi
berat dan dampak perubahan iklim, pemandangan seperti
ini menjadi semakin sulit dicari dan memberi inspirasi.
Arus sedang diantara dua pulau dan sepanjang terumbu
memberi pengaruh membersihkan, membilas dengan air
bersih dan menyapu semua endapan lumpur dan kotoran
lainnya yang dapat mencekik karang. Lokasi ini berdaya
tahan tinggi dan berpotensi untuk menjadi area konservasi.
Secara umum, dari hitungan ikan, lokasi ini sedang-sedang
saja, tetapi memiliki beberapa spesies yang tidak
biasa dan lokasi dengan hitungan tertinggi bagi Kent
Carpenter pada kedalaman penelitiannya. Lokasi ini
luar biasa bagi karang. Emre Turak menghitung 222
spesies karang di air dangkal, yang terbaik bagi peneliti
karang Indo-Pasifik ini, dan mungkin ada tambahan
50 lagi jika spesies air dalam dimasukan ke dalam
hitungan. Berita
baik tentang penyu hari ini. Asril Djunaidi mendarat
di pantai penyu dan menemukan jejak tukik yang berhasil
menuju pantai dan laut. Penduduk kampung menyebutkan
bahwa penyu belimbing bersarang disini.
Tim
sosial ekonomi dipimpin Imran Taeran mendapatkan informasi
yang menarik, termasuk penggunaan penyu. Belum terlihat
adanya praktek pengelolaan tradisonal disini, tetapi
tim sampai di desa ketika sedang berlangsung pertemuan
untuk menghidupkan kembali adat, atau sistem pengelolaan
tradisional. Spesies
krustasea juga menggunung. Ucu Yanuarbi sudah mencatat
42 spesies sampai saat ini dan banyak kepiting kelomang
(hermit crab) yang masih harus diidentifikasi. Mark
Erdmann menambah 34 spesies udang mantis, termasuk
3 rekor baru bagi daerah ini sehingga terdapat 76
krustasea yang sudah diidentifikasi, diluar kelomang.
Rod
|
Day
6 - Rau
Island
2der 17.224men U; 128der 9.723men T
Everyone
needs to recharge their optimism for the survival
of coral reefs by visiting a site like the one we
did this morning. Extending out from the shore beside
a village on Rau Island out to the reef crest, the
shallows and upper reef slope supported a vibrant,
colorful coral garden. Not a coral was broken and
the reef community radiated with resilience. In
this day and age of heavy exploitation and climate
change impacts, such a sight is increasingly uncommon
and truly inspiring. A moderate current washes between
two islands and along the reef, flushing it with
clear water and sweeping away all silt and other
rubbish that might choke the corals. The site is
truly resilient and has great potential for inclusion
in a conservation area. The site was moderately
rich for fishes overall, but yielded some unusual
species and the highest site count for Kent Carpenter
in his focal depths. It was exceptional for corals.
Emre Turak scored 222 shallow water coral species,
a personal best for this seasoned surveyor of Indo-Pacific
reefs, and likely another 50 more when the deeper
water species are included.
Good
news on the turtle front today. Asril Djunaidi landed
on a turtle beach and found the tracks of hatchlings
that made it successfully down the beach and into
the sea. Villagers say leatherback turtles nest
here.
The
village team led by Imran Taeran has also turned
up interesting information, including use of turtles.
There have yet to find any traditional management
in practice, but arrived in a village during a meeting
to revive the adat, or traditional management system.
The
crustacean species are mounting too. Ucu Yanuarbi
has recorded 42 species so far with many hermit
crabs still to be indentified. Mark Erdmann has
added 34 species of mantis shrimp, including three
new records for this area for a total of 76 identified
crustaceans, excluding the many hermit crabs.
Rod
|
 |
| Selintas
taman karang di dekat Pulau Rau (foto: Emre Turak)

A
glimpse into the coral gardens off Rau Island (picture:
Emre Turak) |
| Hari
5 - Pulau pulau Loloda Utara
2der
15.505men U; 127der 46.102men T (Pulau Doi) |
| Kami
menjelajah pulau pulau Loloda Utara hari ini, yang
lingkungannya sangat berbeda, membuat hitungan spesies
terus bertambah, baik untuk karang maupun ikan. Air
di satu lokasi sangat jernih dan banyak kelompok-kelompok
ikan termasuk ikan pelagik tuna gigi anjing (dogtooth
tuna) yang sangat besar – Alison Green dan Andreas
Muljadi masih terus membicarakannya. Andreas menyebut
kawanan napoleon wrasse dan kumpulan kakap sebagai
temuan yang berarti dalam dua hari terakhir. Bumphead
parrotfish (ikan kaka tua) dan kerapu karang yang
besar-besar membuat senang tim ikan. Kami juga menjumpai
habitat terlindung dimana hidup lingkaran karang seperti
daun yang sangat khas dan sebidang besar karang bercabang-cabang.
Karang sudah sangat rusak disini, tetapi bagian-bagian
yang masih utuh dan cantik menyenangkan kami. ”Luar-biasa”
adalah observasi singkat Emre Turak. Emre dan Lyndon
DeVantier menghitung 200 lebih spesies karang di setiap
lokasi, lebih dari tempat manapun yang pernah disurvey
oleh kedua ahli karang dunia ini. Terlihat dengan
jelas adanya aliran bibit karang baru menuju bidang
yang rusak, menggetarkan hati dan membuat penulis
blog ini, pencatat ketahanan karang, sibuk. Ini menunjukan
indikator yang kuat atas kemampuan terumbu karang
untuk pulih jika diberi kesempatan. Gerry
Allen yang meneliti keragaman ikan, mencatat lebih
dari 200 spesies setiap harinya dan sekarang hampir
mendekati 600 setelah hanya 4 hari – belum
pernah dia alami dalam pengalaman selama hidupnya.
Rod |
| Day
5 - N. Loloda Islands
2deg
15.505mins N; 127deg 46.102mins E (Doi Island)
We
covered the N Loloda Islands today, finding very
different environments which kept our species counts
climbing for both corals and fishes. One site had
absolutely transparent water and schools of fishes,
including some large pelagic fishes of which an
enormous dogtooth tuna still has Alison Green and
Andreas Muljadi talking. Andreas recalls a school
of Napoleon wrasse and aggregations of snappers
as two significant findings over the last few days.
Large bumphead parrotfish and coral trout pleased
the fish team. We also covered more sheltered habitat
that showed typical whorls of leafy corals and large
patches of branching forms too. The corals were
extensively damaged, but the beautiful intact patches
we pleasing to see, “mind-blowing” was
Emre Turak’s simple observation. He and Lyndon
DeVantier are getting 200+ coral species at each
site, which is more than anywhere else these world
experts have surveyed. There was absolutely runaway
recruitment of new corals onto the damaged patches,
which thrilled and kept busy, yours truly, the reef
resilience recorder. This is a strong indicator
of the ability of the reef to bounce back if allowed
to do so.
Gerry
Allen covering fish diversity is recording over
200 spp daily and now has nearly 600 after only
4 days – this is unprecedented in his lifelong
experience.
Rod
|
|
Karang
meja sepanjang tepi terumbu karang memudahkan Gerry
Allen mendapatkan contoh ikan

Table corals long the
reef edge provide Gerry Allen with good sampling for
fishes
|
Hari
4 - Pulau
pulau Loloda Selatan
1derajat
42.607men U; 127derajat 32.780men T
 |
Pagi
yang luar biasa – kami turun menuju surga
karang, taman penuh warna, karang keras yang sehat
hampir menyelimuti beting batuan. Keanekaragaman
tinggi, pertumbuhan juga tinggi, bervariasi dan
tetap bila melihat dari rentang ukuran koloni, dan
karang-karang memiliki warna yang baik serta tidak
ada tanda-tanda tekanan dari predator ataupun penyakit.
Sekitar 250 spesies karang tercatat di lokasi ini,
hampir sama dengan jumlah karang di seluruh lokasi
hingga saat ini. Kami melihat koloni karang tua
yang sangat mengesankan termasuk satu raksasa Pavona
clavus yang setidaknya berusia 1.000 tahun (lebar
16-17 m), Methuselah* kami. Hitungan ikan juga terbaik
di lokasi ini. Mungkin salah satu alasan mengapa
karang sangat baik disini karena kurangnya ikan
ikan yang dapat dimakan atau kerusakan karang karena
pengambilan ikan. Ikan-ikan karang kecil terwakili
dengan baik dan beragam.
Melintas
dibawah air terjun yang jatuh ke laut dengan kapal
menandai waktu istirahat kami yang kekanak-kanakan
tetapi cara yang praktis untuk membersihkan garam
dan mendinginkan tubuh.
Perkiraan
kasar jumlah spesies adalah 500 untuk ikan dan 400
untuk karang. Jumlah ini sangat luar biasa mengingat
kami baru 3 hari melakukan pencatatan. Tim ekspedisi
bekerja keras untuk terus mengikuti rekor baru pada
setiap lokasi; dan sangat bergairah menemukan rekor
baru untuk wilayah ini dan memperluas rentang pengetahuan
dari beberapa spesies.
*Methuselah
ayah Nabi Nuh, dianggap orang tertua, dalam bahasa
menjadi istilah bagi mahluk yang berumur panjang
(penterjemah)
Rod,
 |
Day
4 - Loloda
Selatan Islands
1deg
42.607mins N; 127deg 32.780mins E
What
a morning – we dropped into coral heaven,
a veritable garden of colorful, healthy hard corals
almost completely blanketing the rocky shelf. Diversity
was high, recruitment was high, varied and regular
judging by the range in colony sizes, and the corals
had good color and negligible signs of stress from
predators or disease. The coral recorders estimate
250 coral species from the site, about equivalent
to the sum of all sites so far. There were some
impressive old coral colonies including one giant
Pavona clavus that was at least 1,000 years old
(16-17m across), our Methuselah. This site also
yielded the best fish count so far. Perhaps one
reason the corals are doing so well here is the
noticeable lack of food fishes or fishery damage
over the corals. Smaller coral fishes are well represented
and varied.
A
drive in the boat under a waterfall cascading into
the sea made for a welcome respite of silliness
as well providing a practical way to wash of the
salt and cool ourselves down.
Ballpark
estimates of species are 500 for fishes and 400
for corals. This is remarkable after only 3 days
of recording. The scientists are working hard to
keep up with the high yield of new records at every
site; and are excited to find new records for the
area and extend the known ranges of several species.
Rod,
|
|
|
| Pic
1: Tim peneliti bentik bekerja keras mencatat tutupan
dari karang yang tinggi tutupannya (foto:
Rod Salm) pic1:
the benthic cover team hard at work recording the
cover on this high cover reef
(photo Rod Salm) |
Pic
2: Karang berwarna-warni dan sehat menyelimuti dasar
laut yang berbatu dekat pulau Loloda Selatan (foto:
Rod Salm)
pic2: healthy, colorful corals blanket the rocky seabed
near the Loloda Selatan Islands (Photo:
Rod Salm) |
Hari
3 - Penyelaman
yang Luar Biasa!
1derajat
40.499menit U; 127derajat 21.720menit T
 |
| Penyelaman
yang luar biasa hari ini – hangat, air jernih
dan jumlah spesies ikan dan karang terus meningkat
padahal ini baru penyelaman hari ke 2. Ini mengindikasikan
hasil akhir yang luar biasa
Hal
terpenting hari ini adalah dua koloni karang yang
sangat besar, Porites dan Gardinoseris, yang mencapai
lebar 4 m dan lebih dari 8m, diperkirakan berusia
400 dan 1.600 tahun. Temuan ini merupakan indikator
kondisi yang baik bagi pertahanan karang jangka
panjang di wilayah ini. Berbagai macam karang-karang
muda mulai tumbuh di tempat-tempat yang rusak, menunjukan
potensi pemulihan komunitas karang yang sangat baik.
Ada
kabar lagi tentang penyu lekang yang bertelur di
sekitar tempat ini dan kami melihat penyu sisik
ketika menyelam. Hasil pengamatan ikan juga baik,
ikan-ikan besar datang meneliti para penyelam, kasus
dimana siapa meneliti siapa
Rod.
 |
Day
3 - Great
Dives !
1deg
40.499mins N; 127deg 21.720mins E
Great
dives today - warm, clear waters and fish and
coral species numbers are soaring upward and we
are only on day 2 of diving. This portends a great
total yield.
One
of today's highlights was huge colonies of two
corals, Porites and Gardinoseris, that reached
4m and 8+m across respectively, suggesting an
age of about 400 years for the former and 1,600
years old for the latter. These are good indicators
of conditions favoring long-term persistence of
the corals here. There were many young corals
of different kinds recruiting into the damaged
areas which points to the strong recovery potential
of the reef communities.
More
news of olive Ridley's turtles nesting in the
vicinity and we saw hawksbill turtles while diving.
Fish yields were good too, with large individuals
coming in to scrutinize the divers - a case of
who's watching whom.
Rod

|
Hari
2 - Hari yang Sibuk
1
derajat 2.747menit U; 127derajat26.601menit Timur
 |
|
Kami tersembunyi di tempat yang terlindung di Tanjung
Bobo, bahagia bisa beristirahat dari gulungan ombak,
dan kegiatan pun dimulai. Tim sosio-ekonomi menuju
dua desa terdekat yang membuat mereka sibuk seharian.
Tim monitoring mulai menghitung tutupan bentik dan
ikan, indikator ketahanan. Tim keanekaragaman hayati
langsung menyelam menghitung spesies ikan dan karang
dan mencatat ketahanan karang. Tingkat energi sangat
tinggi dan banyak diantara kami yang berada di bawah
laut antara 4-5 jam
Sungguh
sangat tepat kami disambut oleh kumpulan cabang-cabang
karang staghorn yang elegan, Acropora halmaherae,
karang yang pertama kali ditemukan dan dideskripsikan
di Halmahera. Pertama kalinya bagi saya, penulis
blog, melihat spesies ini dan setidaknya membuat
satu orang di dalam kelompok ini sangat bahagia.
Kami mendapat informasi bahwa sekarang adalah musim
peneluran penyu lekang (olive ridley) dan satu diantaranya
datang ke pantai dua malam lalu. Tiga penyu terlihat
di bawah laut, dan sekarang para penyelam telah
diberi pengarahan bagaimana mengindentifikasi penyu,
dan dianjurkan untuk melaporkannya.
Sesuatu
telah mempengaruhi terumbu karang sekitar 10 tahun
lalu. Mungkin akibat pemutihan yang terjadi diseluruh
dunia pada tahun 1998 atau karena outbreak bintang
laut berduri, predator karang yang rakus. Tetapi,
setiap dampak memiliki timbal balik, onggokan puing-puing
itu menjadi rumah bagi nudibranch (siput tak bercangkang
dengan insang terbuka) yang berwarna-warni indah.
Mahluk cantik ini, disebut siput laut oleh mereka
yang tidak tahu, mendapatkan makanan dan rumah di
karang mati yang mulai tumbuh kembali.
Catatan
keanekaragaman karang dan ikan sudah mulai dibuat
dan kami sudah mencatat di sekitar 200an mencakup
ikan dan karang.
Rod |
Day
2 -
Shakedown
day
1degree2.747mins N; 127deg26.601mins
E
We
tucked in under the lee of Tanjung Bobo, happy
for the respite from rolling in the swells, and
the MEA started in earnest. The socioeconomic/resource
use team headed off to two villages that occupied
them for the day. The monitoring team set off
to do their counts of benthic cover and fish indicators
of resilience. The biodiversity team dived straight
into counts of fish and coral species and recording
reef resilience. Energy levels were high and most
managed 4-5 hours underwater.
It
is fitting that we greeted by thickets of the
fine-branching and most elegant stagshorn coral,
Acropora halmaherae, first found and described
here in Halmahera. It was a first for your diligent
blogger and consequently left at least one person
very happy. We have learned that this is the nesting
season for the olive Ridley turtle and that one
came ashore two nights ago. Three turtles were
seen underwater and divers now have been briefed
on turtle identification and encourage to report
the species seen.
Something
has impacted the reefs here about 10 years ago.
It could have been linked to the 1998 worldwide
bleaching event or an outbreak of the crown-of-thorns
starfish, a voracious coral predator. However,
every impact has a trade-off and the rubble banks
are home to numbers of exquisitely colored nudibranchs
(shell-less snails with exposed gills). These
beautiful creatures, called sea slugs by the irreverent,
find good food and shelter on these recovering
areas of dead coral.
The
coral and fish diversity lists are started and
we already into the low 200s.for both fishes and
corals.
Rod

|
|
Acropora
halmaherae oleh Emre Turak, karang staghorn
dari Halmehara banyak terlihat pada penyelaman pertama
kami muncul bagaikan burung phoenix dari padang
rumput laut yang menutupi onggokan karang.
Photo
by Emre Turak of Acropora halmaherae,
the Halmahera stagshorn coral common at our first
dive site rising a phoenix from a field of seaweed
covered coral rubble..

|
Hari
I
 |
| Fajar
menyingsing, cuaca cerah, biru, angin sepoi-sepoi
menyejukan menyambut pagi di khatulistiwa. Kami
semua cukup beristirahat dan ingin segera memasukan
barang-barang kami dan mulai berlayar. Pada 10.00
kami menuju ke Selat Lembeh, laut yang lincah, dan
perjalanan sehari semalam melintasi lautan menuju
Halmahera. Siang hari kami gunakan untuk mempersiapkan
peralatan, lembar data, mendiskusikan dan memperbaiki
metoda assessment yang akan digunakan, menentukan
kawan penyelaman, dan berbagai kegiatan pengaturan
yang penting dan diperlukan untuk mempersiapkan
hari pertama kerja di lapangan, serta menikmati
makanan lezat yang dihidangkan di kapal. Semua memusatkan
perhatian pada kunci pas, obeng, dan o-ring, memastikan
semua peralatan bawah laut terlindungi dari air,
sambil beristirahat dan menghilangkan kelesuan akibat
jetlag. Tentu saja selalu ada waktu untuk musik
dan nyanyian oleh anggota tim Indonesia dan beberapa
orang awak kapal. Kami sudah siap dan gembira untuk
memulai. Kami berharap tiba di Tanjung Bobo jam
07.00 and melakukan penyelaman kami pada 08.30
 |
DAY
1
The day dawned clear, blue
and blissfully cooled by a breeze so welcome on
equatorial mornings. We all rose rested and eager
to load up and ship out. By 1000 we were headed
out into the Lembeh Strait, a lively sea, and the
long day and night passage across to Halmahera.
The day was put to good work preparing gear, data
sheets, discussing and fine-tuning assessment methods,
pairings of divers, all those essential organizational
activities needed to prep for the first day's intensive
field work, and appreciation of the excellent food
aboard. Focus on spanners, screwdrivers, O-rings
and waterproofing of valuable underwater equipment
was a priority for most, along with resting up and
shaking off the lethargy of jetlag. There was ample
time too for music and singing by our Indonesian
members and some of the crew. We are ready and raring
to go. We expect landfall off Tanjung Bobo by 0700
and to submerge on our first dive by 08.30.
- Rod-
 |
|
|
|
|